Sepasang kepik hitam

Words
222
Reading
1 min
Listen
Play
4y

img_0.5842611513641435.jpg

img_0.33928889024563796.jpg

Pagi semuanya, sesudah sahur malam biasanya aku teruskan solat shubuh sebelum melanjutkan tidur lagi, tapi setelah aku melihat rewardku yang menurun aku harus kembali konsisten untuk bikin postingan lagi dan di unggah di jam yang lebih awal dari yang sudah-sudah.

Mencoba bangun dari kemalasan puasa, pikirku urusan tidur gampang nanti kalau sudah beres semuanya saja.

Di saat temanku asyik tidur, acara gerilya pun tiba di semak belukar depan rumah
kosan saya.

Mungkin karena aku yang terlalu pagi, yang terlalu semangat. Gerombolan nyamuk malaria yang temani aku dalam pengintaian ini.

Maju terus pantang mundur, sebelum aku dapat yang aku mau. Ternyata benar, di balik daun mangkokan sepasang kepik hitam sedang diam berduaan dan aku pampang digambar paling depan.

img_0.33928889024563796.jpg

Tanpa ragu aku harus ambil gambarnya. Harus extra pelan dan sabar supaya lebih tenang dan dapat gambar banyak, tapi kepik hitam sudah pintar, si jantan seolah mengajakku jalan-jalan mengitari pohon mangkokan, meninggalkan betina.

Trik yang pintar, bukan hanya jalan-jalan saja kepik hitam mengelabuiku.

img_0.6641896983236089.jpg

img_0.17323764993221888.jpg

img_0.7319970401668447.jpg

Sesekali dia berhenti berdandan membersihkan sungutnya.

img_0.39394032513283134.jpg

img_0.17434364722309362.jpg

img_0.1836052574726845.jpg

img_0.8296821603871647.jpg

img_0.6107920928900754.jpg
I
Rasa haus untuk gambar seakan terjawab pagi ini. Dengan kehati-hatian aku ikuti gerakannya satu demi satu. Tapi mataku tak sejalan hasratku, aku harus tinggalkan sepasang kepik hitam dan lanjutkan tidurku.
Hanya butuh 15 menit untuk bayar utang tidur malamku yang aku gadaikan pagi ini.

Sekian semoga pembaca tetap sehat dan berbahagia selalu, amin.

Bekasi, Indonesia

Sepasang kepik hitam | Ecency