Pada Malam yang Lain

Words
214
Reading
1 min
Listen
Play
9y

image
source: pexels

Pada malam lain. Ketika udara beraroma bacin, tatkala burung hantu sedang buang angin. Kawanan jangkrik main-main, kunang-kunang menyala di atas kubur.

Bulan tak pernah mau tersungkur. Kecuali seorang laki, di sebuah sudut jatuh terpekur. Matanya redup. Jantungnya berdegup-degup. Pikirannya menerawang, menerka-nerka yang tak sanggup di capai nalar logika.

Asmara adalah sumber gelisah. Orang-orang dibikin marah, sementara malam, dalam kegelapannya; nyengir tak keruan. Apa lagi yang dipikirkannya kecuali mati. Asmara mengajaknya ajal lebih awal, tinggal pilih: apa mau dengan ujung belati, gantung diri, racun tikus atau dengan tusuk gigi.

Bulan ikutan nyengir. Hebat sekali nyengirnya, sampai-sampai bintang bertanya, "Bagaimana caranya bisa nyengir seperti itu?"

"Aku belajar dari manusia yang pernah menjejakkan kakinya di tubuhku. Neil Alden Amstrong namanya."

Bintang tersipu. Tapi bulan tak mau tahu, dan laki yang tengah terpekur sendiri kini sudah tersedu-sedu. Malam, bulan, bintang, burung hantu, jangkrik dan udara beraroma bacin turut prihatin.

Malam menyarankan pakai tali gantung saja, tapi disanggah burung hantu lebih baik minum racun tikus saja. Bulan bilang, mendingan pakai belati. Sisi tragik dan dramatiknya dapat, bintang mengangguk setuju, dan. Jangkrik bersama udara beraroma bacin sama-sama menghimbau, lebih aman mati dengan tusuk gigi. Selain dosanya bisa dimanipulasi dengan dalih tersedak, memakai tusuk gigi jadi alat bunuh diri agak di luar kata lazim dan polisi akan susah melacaknya.

Pada Malam yang Lain | Ecency