Dia dipanggil 'Apasuh'. Ketika SD, aku begitu mengaguminya. Ada seorang lagi Pak Bahtiar, yang aku kagumi. Dia adalah guruku di Sekolah Dasar yang memegang mata pelajaran olahraga. Meski guru olah raga, Pak Bahtiar mampu membuat kami melayang-layang dengan dongengnya.
Aku kerap menjumpai Apasuh, pagi saat berangkat ke sekolah, di jalan. Setiap pagi dia menuju pasar, ketempat ia bekerja. Dia bekerja di sebuah warung kopi di sudut pasar yang tak jauh dari rumahku. Apasuh begitu menyukai anak-anak. Setiap aku dan teman-teman berjumpa dengannya selalu ia sapa dengan senyum yang sangat ramah. Pernah waktu hari pekan, pasar menjadi sangat ramai. Entah dari mana saja orang datang membawa dagangannya; Sayur, buah-buahan, orang jual obat, baju, mainan anak-anak, yang berbanjar di emperan toko hingga penuh sampai ke ujung pasar ikan. Pasar menjadi riuh dengan sorak-sorai pedagang.
Kami yang baru pulang sekolah, tidak langsung pulang ke rumah. Pasar menjadi tempat yang sangat asik saat hari pekan. Di sana pasti ada Waksuh yang kerap membelikan kami es campur, mie, kadang juga buah-buahan. Hal yang demikian terjadi hampir saban hari pekan.
Saat konflik mulai memanas di kampungku, pasar menjadi tak ramai seperti biasanya. Kami mulai takut untuk bermain ke sana, setelah beberapa kali kontak senjata. Sementara Apasuh menghilang entah kemana. Ada yang bilang dia di culik. Ada juga yang mengatakan dia sakit parah, dan sudah meninggal.
Lama aku tidak melihat Waksuh, hingga aku menyelesaikan kuliah. Dua Tahun lalu, aku dan beberapa teman yang pernah akrab dengannya, melihat lagi Apasuh di menasah kampungku saat acara maulid. Kami sempat bertanya-tanya dan saling meragukan. Maka kuhampiri orang itu. Kuberikan salam untuknya, sambil menyerahkan tangan kanan. Ia membalas salam seraya menyerah tangan kanannya pula.
Untuk memusnahkan keraguan, maka kutanyakan padanya. "Apa benar anda Apasuh?"
Ia menjawab,"iya. Kamu siapa?" Tanyanya dengan senyum ramah.
"Saya adalah anak kecil yang dulu sering main ke pasar yang sering Apasuh belikan kami makanan".
"Heheh". Dia tersenyum." Sudah besar ya". Sambungnya, sambil melihat kami, senyum dengan kepala terangguk-angguk bak daun yang di elus angin.
Tidak ada yang berubah darinya. Cara berpakaiannya masih sama persis seperti 18 Tahun silam.
Hanya saja Apasuh tampak semakin tua. Jalannya semakin lambat. Ada lingkaran putih seperti benang melingkari matanya yang hitam. Namun dia masih lembut seperti yang aku kenal saat masih kecil.