Kartini Masa Lalu, Kini, dan Esok

Words
192
Reading
1 min
9y
Listen to this post
~1 min

Seorang perempuan terkulai lemah di atas dipan usang beralas tilam kapuk.
Wajahnya tirus keriput tinggal tulang berbalut kulit.
Ingatannya terpagar hanya sampai masa kejaayannya,
puncak kecantikannya.
Ia tak buta huruf, tulisannya apik, mengajinya merdu.
Ialah Kartini masa lalu.

Namun, masanya tak lagi lama. Tak pun ia mengingat umur.
Ia linglung. Hanya cerita berulang-ulang pada cicitnya
yang setia mendengarkan.
Tentang penjajah yang masuk ke kampungnya,
Dan memberi siksa pada mereka yang tak sepakat.

Kartini Masa Lalu bercerita
Ia anak Tuan Guru Nan Kayo, gelar ayahnya.
Seorang pintar yang wafatnya membawa kesedihan sekampung.
Ditembak tepat di dada.
Ia dendam.
Dendamnya pada kebodohan.
Anak Tuan Guru rajin ke Surau, belajar huruf, angka, dan mengaji.
Kartini Masa Lalu menikah, umurnya tak sampai enam belas.

Seorang perempuan menyeka tinja ibunya yang terkulai lemah.
Sambil mendengarkan cerita yang sudah didengarnya ribuan kali.
Tentang Kartini Masa lalu
Perempuan itu tak banyak bicara.
Umurnya juga tak muda,
menjaga ibunya,
juga cucunya, Kartini Masa Depan.

Ia bukanlah Kartini Masa Lalu, Kini, atau Esok.
Perannya terjebak di tiga masa.
Menyuapi ibunya yang linglung,
menjaga cucunya yang melompat-lompat diatas dipan.
Karena putrinya, Kartini Masa Kini, sedang mengejar impian.

Screen Shot 2018-01-15 at 12.31.08 PM.png
Gambar hanya ilustrasi (Dokumentasi pribadi)

Kartini Masa Lalu, Kini, dan Esok | Ecency