AYEK
(Sebuah Cerpen Oleh Afrida Arfah)
"Maaaa..... Ayek keluar lagi kayaknya, udah gak ada dia di teras". Ibu dan nenekku yang kupanggil "Uwo" segera keluar menemuiku dengan tergesa-gesa.
"Laah... bukannya tadi masih cerita-cerita sama Zia?"
"Iya, tapi Zia bosan dengar cerita ayek, ituuuuu itu aja. Baru lima menit udah cerita itu lagi. Kalo nanya juga ituuuu itu terus. Jadi waktu Nanda datang, Zia langsung ajak main aja"
"Kok Zia gitu, ya udah ayo kejar, pasti ayek masih di sekitar komplek".
Uwo yang sedari tadi tak bertanya apa-apa sudah lebih cepat melangkahkan kaki mencari ibunya yang kupanggil "Ayek". Tapi tak berapa lama, diujung jalan telihat langkah kaki seorang ibu dan seorang nenek berbadan bungkuk yang kupanggil:
"Ayeeekkk... kok keluar sih, Zia jadi kena marah Mama"
Bu Sundari namanya, tetangga satu komplek denganku, anaknya juga sekelas denganku di SD ANAK BANGSA. Ia berjalan pelan sambil menggandeng Ayek yang seperti biasa, linglung.
"Mama Zia, Ayeknya udah di simpang Blok B. Kebetulan saya lagi lihat-lihat bunga, eehhh si Ayek PD aja jalan sendiri sambil bawa buntalan kain" Kata Bu Sundari sambil tersenyum.
"Iyo Nak, dikiro Ayek, iyo dake' sawaliek tu. Padahal jauuuuuah bana, indak mau ayek percayo kalau kito ni di Medan, bukan Payakumbuah". Nenekku, walau sudah puluhan tahun di Medan, tapi masih kental logatnya. Sehingga dicampurnyalah bahasa Indonesia dengan logat Payakumbuh. Berbeda dengan uwo, ayek justru tak bisa berbahasa indonesia. Alhasil, kalau ngobrol dengan nenek buyutnya si Surti tetangga depan rumah yang hanya bisa berbicara dengan bahasa Jawa, topiknya ntah kemana-mana dengan pengertian masing-masing
Walau ada sedikit kesal dengan ibunya, Uwopun memapah ayek untuk masuk kedalam rumah. Tak kalah dengan Uwo, Ayekpun pasti kesal karena baju-baju yang sudah dibuntal oleh kain sarung harus kembali masuk ke dalam lemari.
"Makasih ya Bu Sundari, ya begitulah Ayek kami. Namanya juga udah tua, udah waktunya pikun, dan rindunya sama kampungnya yang bikin dia begitu. Selalu dikiranya kita ini lagi di Payakumbuh, jadi kalau mau pulang ke kampungnya bisa jalan kaki. Padahal, jaman sekarangpun mana ada lagi orang yang jalan kaki dari Payakumbuh ke kampungnya, apalagi kalau dari Medan". Ibuku dan Bu Sundari tertawa kecil sambil melihat langkah gontai ayekku yang niatnya untuk pulang kampung tak tersampaikan.
Kebiasaan Ayek yang selalu keluar rumah sambil membawa buntalan kain berisi baju-bajunya sudah menjadi berita umum di komplek kami. Bahkan, kalau kami semua sedang sibuk dengan pekerjaan masing-masing, ibuku mengunci pintu pagar agar ayek tak keluar rumah. Kalau sudah begitu, ayek akan memanggil-manggil untuk dibukakan pintu pagar.
Aku sendiri yang kala itu masih SD, terkadang bosan dengan cerita Ayek tentang masa lampau. Bahkan jika ada yang ingin membukukannya, aku bisa dengan lancar menceritakan kembali kisah Ayek kepada penulis. Mulai dari kenangan akan suami pertamanya yang meninggal di saat anak pertamanya masih dalam kandungan, anak sulung itu adalah Uwo. Lalu tentang suami keduanya yang juga akhirnya meninggal setelah ayek melahirkan seorang adik untuk uwo. Tak ketinggalan suami ketiga yang juga meninggal walau tak sempat mewariskan seorang adik lain untuk uwo. Kisah terakhir tentang para suaminya, adalah tentang suaminya yang ke empat. Dengannya, ayek mendapatkan anak ketiga. Namun sayang, kali ini bukan ditinggal mati, melainkan ditinggal kawin lagi. Dari seluruh suaminya, suaminya yang pertamalah yang paling membekas dihatinya. Seorang ulama dan berwibawa, begitulah ceritanya menurut ayek.
Tidak hanya bab kisah tentang suami yang selalu diceritakannya, tapi juga zaman penjajahan, PKI, juga anak bungsunya yang meninggal di hutan karena diterkam binatang buas. Setelah melahirkan, si anak bungsu terserang penyakit yang berhubungan dengan kejiwaan. Tak lama, suami si bungsu meninggal ketika ia baru saja menghadirkan seorang cucu untuk ayek. Dalam keadaan sedikit tak waras, si bungsu sering sekali berjalan sendirian sampai ke hutan. Dan sampailah pada saat naas itu, ntah ia diserang babi hutan, ular, atau malah anjing liar yang biasa dilepas untuk mengejar babi hutan. Aku tak begitu jelas mendengarnya, binatang buas mana yang menyerang Mak Uwo bungsuku itu.
Secara garis besar, ayek hidup begitu lama, dan telah menghadapi begitu banyak kematian orang-orang terdekatnya. Sedangkan Uwo yang menikah diumur 15 tahun, tiga tahun kemudian bersama suami dan ketiga anaknya termasuk ibuku merantau ke Medan sampai akhirnya melahirkan 5 anak lagi di Medan. Tinggallah Ayek beserta anak lelaki dan cucu peninggalan si bungsu.
Untunglah, anak lelakinya tak ikut merantau setelah menikah. Ia menjadi guru di Payakumbuh, tapi masih bisa mengunjungi Ayek dan cucunya di rumah gadang. Kepergian satu persatu orang yang dicintainya, membuat Ayek kuat. Bertahun-tahun ia membesarkan sendiri cucunya yang yatim piatu, sampai akhirnya cucunya yang kupanggil Tek Ris itu selesai SMA.
Mendengar kabar tek Ris sudah tamat SMA, Uwo dan Ibuku mengajak mereka ke Medan untuk tinggal bersama kami. Sedangkan Uwo, setelah Atokku (Kakek) meninggal ketika aku berumur 3 tahun, ibuku langsung memboyongnya kerumah. Sebab, satu-satunya rumah toko peninggalan Atok yang surat-suratnya lemah ketika dibeli dulu, diambil alih oleh seorang keturunan Tionghoa setelah akhirnya Uwo kalah dipengadilan.
Beginilah rumah kami yang selalu ramai sejak awal, adik-adik lelaki ibuku, Uwo, Ayek, Tek Ris, juga beberapa kerabat dari pihak Ayah yang menetap silih berganti sampai akhirnya satu-satu dari mereka mendapatkan pekerjaan, menikah dan mempunyai rumah sendiri.
Setelah kedatangannya ke Medan, Ayek semakin menunjukkan ketuaannya. Ingatannya memudar, pelupa dan linglung. Yang anehnya, ingatan tentang seluruh kejadian dikampungnya tak pernah ia lupa. Ia hanya tak ingat sudah berapa kali ia ceritakan padaku cerita yang sama. Ayek juga sering lupa kalau sholat. Bukan lupa sholat, tapi lupa kalau ia ternyata sudah berkali-kali sholat. Hal ini sering membuat kami geleng-geleng kepala. Apalagi kalau sampai Ayek lupa sudah membaca surah pendek, bisa-bisa ia akan membaca surah pendek beberapa kali setiap rokaat. Ah, bagiku ini malah lebih baik, dari pada lupa sholat, lebih baik berkali-kali sholat, berkali-kali menamatkan dzikir, berkali-kali pula do'anya.
Kadang-kadang aku kesal kalau ditanya dengan pertanyaan yang sama
"Ziaa... Oo ziaa... Dimaa tasbih ayek?"
"Itu yek, dibalik sarung ayek"
"Dimaa?"
"Iko, di baliak kain ayek" kataku mengulang walau tak fasih berbahasa padang.
Lalu 10 menit kemudian, setelah zikir biasanya ayek berdoa, lalu membaca surah Al Ikhlas 33 kali menurut ingatannya dengan tasbih, dan bertanya lagi,
"Ziaa dimaa tasbih cakoo? Coliak lah sabanta... Ndee.. Iyo bana pelupo den"
"Tasbihnya masih didekat ayek, ini dia". Aku kembali meneruskan keasikanku.
Selesai bertasbih, ayekpun melipat mukenanya, lalu duduk di dekatku. Dan lagi-bercerita yang sama seperti hari-hari yang lalu. Terkadang, ditengah bercerita, ayek menanyakan jam.
"Jam baraa sekarang?"
"Jam lima, Yek."
"JAM LIMO? Ba a ndak bakecek olah jam limo, ayek olunlai sholat" Ayek menyalahkanku kenapa tak bilang kalau sudah jam lima, karena dia belum sholat."
" Udah Yek, Ayek udah sholat tadi. Olah sholat cako"
"Olun." Bantahnya dengan maksud mengatakan belum.
"Udah yek"
"Olun." Bantahnya lagi sambil beranjak berwudhu' lagi, sholat lagi, mengulangbacaan lagi, rakaatpun yang mungkin berulang-ulang kalau tak diingatkan uwo, menanyakan letak tasbih lagi, berzikir lagi sampai yakin hitungannya sudah pas menurut yang ia ingat, ya menurut yang ia yakin ingat.
Terkadang aku terlalu asik bermain conngklak dengan temanku, dan tak terlalu memperhatikannya. Jika aku terlalu asik bermain, ia akan bertanya pada Uwo, atau Mama. Bahkan kadang-kadang memanggil nama Tek Ris untuk bertanya.
"Riiss... Oo Riss... Sikolah sabantaa..."
Uwo, yang mendengar nama tek Ris dipanggil, langsung mendekati Ayek.
"Si Ris lah korojo inyo, indak tingga siko lagi. Lah ado rumahnyo sendiri" Uwo menjelaskan untuk kesekian kali kepada Ayek setelah Tek Ris mendapat kerja, Tek Ris tidak tinggal disini lagi. Biasanya Ayek langsung terkejut dan bertanya kenapa tidak bilang padanya, atau kenapa tak mengunjunginya. Padahal Tek Ris sudah bekerja dan tidak lagi tinggal bersama kami sejak tiga tahun lalu. Dan,padahal Tek Ris juga baru kemaren mengunjungi ayek. Ah dasar ayek, sampai mulut berbuih juga tetap tak ingat.
Kalau siang tiba, ayek selalu duduk diteras membaca Qur'an sambil melihatku bermain bongkar pasang, boneka, batu, atau congklak bersama tetangga. Matanya yang tak rabun sedikitpun dapat melihat huruf-huruf AlQur'an dengan jelas. Tapi kalau bacaannya selesai, Ayek sedikit membuatku jengkel lagi.
"Zia, baraa lamonyo dari siko ke Sawaliek?"Ayek menanyakan berapa lama waktu yang dihabiskan untuk pergi ke Sawaliek.
"Lama yek" Jawabku acuh.
"Lai biso sampai satu jam bajalan kaki?" Tanyanya memesatikan kalau dengan berjalan kaki satu jam, apakah bisa sampai ke sana.
"Indak" Kataku masih acuh
Ayek terdiam, memperhatikan kami bermain. Lalu lima menit kemudian bertanya lagi
"Zia, baraa lamonyo dari siko ke Sawaliek?" Aaah, lupa lagi deh si ayek
"Lamoo, Yek" Kataku.
"Baraa lamonyo?" Ayek masih penasaran dengan waktu yang ditempuh dari Medan ke Sawaliek.
"Kalau jalan kaki gak sampai-sampai, Kalau dengan mobil 18 jam"
"Jo oto 18 jam? Ndee jauah bana. Dimaa kito sekarang?" Terkaget beliau mendengar perkataanku tentang jarak dan waktu ke Sawaliek.
"Kita di Medan yek, baruu bulan lalu kita pulang ke Sawaliek, Ayek lupa?"
Letihnya perjalanan bulan lalu belum lagi hilang. Kami keluarga besar uwo berkonvoi ke kampung, hanya sekedar melepas rindu Ayek pada kampung halamannya, Sawaliek. Sawaliek sebenarnya berasal dari kata sawah liat. Ntah bagaimana sejarahnya kampung itu disebut sawah liat, tapi sepenglihatanku, sawah disana subur dan tidak liat atau keras.
Kami menginap di Rumah Gadang milik Ayek. Bagi orang Minang, Rumah Gadang merupakan salah satu kebanggan. Gunanya agar keluarga besar dapat berkumpul, maka dibuatlah rumah gadang dengan beberapa bilik. Masih segar juga diingatan bagaimana segarnya cara kami mandi dan buang air. Untuk mandi saja, harus turun kebawah, menyusuri setapak jalan dipinggir sawah. Yang didepannya terlihat bukit, sedangkan dibawah bukit mengalir air sungai yang jernih. Lalu mandi didalam bilik yang terbuka atasnya.
Kalau ingin buang air besar, juga tak kalah indah. Aku menyusuri jalan lebih jauh lagi hingga dapat sebuah kolam ikan. Disanalah wc itu berada, sedangkan ikan-ikan siap menampungnya dibawah. "Uffft, siapa orangnya yang sanggup memakan ikan-ikan ini". Fikirku saat itu.
Hal tak terlupakan terjadi juga. Saat makan malam, wangi ikan balado membuat ludahku berkumpul di ujung mulut. Saat mengunyahnya, aku bertanya:
"Ikan apa ni?"
"Ikan tobek." Kata Ayek
"Ikan tobek itu, ikan apa, Ma?"
"Ikan yang di ambil dari kolam ikan yang di belakang sana, itu loh tempat Zia buang air tadi." Kata mama tertawa.
Aku menjerit, dan meninggalkan piringku. Jelas saja aku menangis saat itu juga. Jijik, tentu saja. Sebal, karena tak ada yang memberitahuku mengenai ikan ini. Termasuk Mama.
"Zia Zia..... Giliranmu yang main". Surti dan Rahma serentak menyentak lamunanku. Kulihat, ayek kembali membaca Qur'an. Ahh, sukurlah ayek tak lagi bertanya tentang Sawaliek. Aku, Surti dan Rahma mengganti permainan kami dengan bermain masak-masakan.
Tahun demi tahun berganti, dan Ayek yang membungkuk malah semakin lemah kakinya. Akhirnya di umurnya yang ke delapan puluh sembilan, ayek hanya mampu mengesot. Sholatpun tak lagi berdiri, pertanyaan-pertanyaan berulang semakin sering ia tanyakan. Pertanyaan yang sama, pertanyaan-pertanyaan yang membuatku lelah menjawabnya, bahkan terkadang jawabanku semakin acuh dan sekenanya saja.
Dalam keadaan kaki yang lemah, Ayek tak pernah jera menyiapkan buntalan kainnya. Menurutnya ia sudah seminggu disini, rumahnya tidak ada yang menjaga.
"Nur... Oo Nurr" Ayek memanggil Uwo
"Antarkanlah dulu Amak ke kampuang, lah seminggu Amak disiko, ndak ado siaa nan menjagoo sawah, ndak ado pulo kawan si Ris baeko". Ayek masih mengira, bahwa ia baru saja seminggu berada di rumah kami. Sedang Tek Ris yang sekarang sudah menikah, masih berseragam SMA dalam ingatannya. Ia tak ingat pernikahan Tek Ris, walau saat itu ia sendiri yang meneteskan air mata ketika membelai rambut Tek Ris di pelaminan.
Kalau Uwo menjelaskan bahwa Ayek sudah 10 tahun di rumah ini, juga sawah disana sudah tak ada lagi, Ayek akan langsung marah dan mengira Uwo berbohong. Ah,betapa aku juga sedih melihat Uwo. Hanya ada Tek Ris dalam ingatan Ayek selalu, padahal Tek Ris sudah semakin jarang berkunjung ke rumah. Sedangkan Uwo yang selama ini memandikan Ayek, membersihkan kotorannya juga menemaninya hanya teringat sepintas lalu. Walau begitu, Uwo tetap sabar menjaga dan menjawab semua pertanyaan ayek.
Malam itu tiba-tiba ramai. Mama menelpon Tek Ris, kakak dan adik-adiknya untuk datang ke rumah. Aku bertanya pada Mama tentang apa yang tarjadi. Kata Mama, ayek tertidur setelah sholat Isya tadi, dan belum juga bangun walau sudah dibangunkan Uwo. Kudengar juga, ada seorang dokter berada di kamar Ayek dan Uwo. Pelan-pelan kubuka kamar Ayek. Kulihat ayek sedang tertidur, sedang Uwo membaca Alqur'an sambil memegang tangan Ayek dan sesekali membisikan sesuatu. Aku tak berani bertanya apakah Ayek sudah meninggal, yang pasti ia sangat pulas dan tenang di tempat tidur itu. Sampai akhirnya, dokter memastikan kalau Ayek sudah menjemput ajalnya. Tanpa sakit, tanpa rintihan. Tenang, ketika sholat dan lalu seperti tertidur.
Masih dengan mengenakan mukena ditubuhnya, wajah putihnya yang keriput memancarkan kelegaan setelah sekian lama bertahan dengan kerasnya kehidupan yang ia jalani sendiri membesarkan anak-anaknya, kehilangan satu persatu orang yang ia cintai, menahan rindu akan kampung halamannya, dan Tek Ris yang jarang sekali berkunjung. Kupandang buntalan kain yang selalu diletakkannya di tempat tidur, mengelusnya. Dari luar kudengar suara tangis seorang wanita, pecah. Seorang wanita yang dinanti kedatangannya oleh ayek. Tek Ris merongrong meminta maaf karena terlambat sampai dirumah.
*****
Sekarang aku kembali memegang buntalan ini, buntalan milik Ayek yang sempat kusimpan 20 tahun silam. Tepat di hari kematiannya aku menyadari sesuatu, bahwa ia telah membatasi ingatannya hanya sampai pada saat ia meninggalkan kampung halamannya dengan membawa Tek Ris. Ntahlah, mungkin itu sebabnya ia hanya mampu mengingat kejadian hanya sampai tek Ris memakai seragam SMA. Mungkin sebenarnya Ayek begitu berat meninggalkan Sawaliek, sehingga tak mampu menerima ingatan setelah meninggalkan kampungnya.
Aku meletakkan buntalan itu di dalam salah satu bilik rumah gadang milik ayek. Rumah gadang itu tak ada yang mengurus, banyak sekali sarang laba-laba dan debu. Untuk terakhir kalinya aku melihat kembali buntalan kain itu, dan membayangkan betapa lucunya ayek dulu. Hampir setiap hari membungkus bajunya dengan kain, jika kami lengah maka iapun berjalan sendiri menuju Sawaliek dalam fikirnya.
Sayangnya, betapa anak-anaknya fikiranku dulu. Tak pernah menyadari keluguan Ayek. Selalu saja aku membatin karena kesal dengan sifat lupa-nya. Ah, mungkin jika umurku panjang, akupun akan sama seperti dia. Maukah anak, cucu, dan cicitku menjawab pertanyaanku yang berulang atau mengejarku ketika aku berjalan keluar rumah dengan membawa buntalan kain menuju rumah yang kuanggap masih ada.