Anak-Anak Syurga
Karya: Afrida Arfah
Tangisnya pecah ketika ia keluar dari Rahim ibunya
Takdir memilihnya bertahan diatas tanah jihad itu
Tangisnya pecah tanpa ia tau, ibunya berdarah menunggu ajal
Tepat sebelum lahirnya, si ibu terserempet peluru serdadu iblis.
Sedang ayah si anak terburai perutnya.
Rumah? wujudnya lebur rata tanah.
Anak-anak syurga, kisah yang sama, Tanah Gaza ….
Kecilnya bermain Molotov menghardik tank-tank Israel tanpa kenal apa itu ‘Takut’.
Bermain tanpa tertawa…dan rona gembira
Permainan meregang nyawa
Padanya kita ini kerdil. Hanya bisa menontoni mereka yang terkoyak hatinya, juga raga.
Pada saudaranya yang lebih dulu hilang kakinya…
Pada Ayah ibunya yang lebih dulu mencium wangi syurga… kita ini papa.
Tapi, langkahnya tak buram
Tak pula nanar tatapannya
Walau nestapa jejak langkahnya pada masa depan diujung senapan
Anak-anak Syurga
Berbilang waktu, tubuhnya kokoh, meninggi, bertambah umurnya
Permainannya lebih garang. Gertakannya menyambar amarah serdadu iblis yang
menapaki tanah kelahirannya.
Mereka mengejar, menarik tangannya, menunjanginya hingga terjerembab…
Hingga pipinya sejajar tanah, hingga hidung tak mampu membedakan bau tanah dan
sepatu keras serdadu yang mendarat di kepalanya.
Dengan langkah kaki terseok, pipi yang terkoyak luka bekas ujung senapan
Tapi jiwanya tak undur… pantang berkeluh….
Hanya takbir…. Hanya nama Tuhannya yang ia kenal…
Allaaah… Allaaahu Akbar… Allahu Akbar.. di setiap langkah kakinya.
Lukanya sembuh, kembali ia bermain.
Mengajak temannya meracik Molotov
Melemparnya pada manusia-manusia berseragam arogan.
Hingga tersulut berang para serdadu itu.
mereka dikejar dengan emosi bertambah, tanpa hati.
Lagi, dengan bibir pecah, jari bengkok terpelintir, perutnya memar, ia berjalan terseok
pulang..
Tapi temannya tak ikut dengannya. Tertinggal, untuk lebih dulu mencium wangi syurga.
Ini permainannya, dan inilah aturannya.
Anak-anak syurga itu tumbuh bersama.
Pantang meratap berkeluh nasib.
Tidakkan runtuh semangatnya
Tak pula terpasung jiwanya pada luka yang menganga
Hanya pekik “Allaaaaahu Akbar” sebagai tonggak semangatnya.