Saat itu...
Aku ditampar suatu musibah.
Ayahku kecelakaan.
Sakit, sedih, kecewa.
Ya, aku kecewa sebab aku tak disampingnya, terutama disamping ibuku.
Pikiranku kacau, entah bisikan apa saja yang sudah memenuhi otakku.
Ada tanya dalam hati.
Bagaimana jika terjadi sesuatu yang aku sendiri belum sanggup memerimanya?
Dan pemikiran itu terus menghantuiku.
Ya, ayahku mengalami benturan keras hingga terkena saraf.
Ayah sadar tapi tak kenal sekitar.
Kutatap wajah ayah, aku tahu ia menahan rasa sakit.
Kutatap wajah ibu, ku tahu ia menahan isak tangis.
Dan sejak saat itu aku kembali berpikir.
Andai aku sudah sukses pasti ayahku tidak diruangan sempit ini.
Andai aku sudah sukses pasti bukan pengobatan seperti ini yang dijalani.
Hancur.
Bahkan aku tak sanggup melihat wajah ibuku.
Rasanya subhanallah.
Kuliahpun malas, sampai di kampus pikiran tetap ke ayah.
Tapi aku percaya bahwa rasa sakit yang ayah rasakan adalah bentuk kasih sayang Allah dan penghapus dosa-dosa.
Alhamdulillah hingga detik ini aku masih bisa melihat senyuman dari lelaki yang sangat ku cinta yang Allah hadiahkan untukku, lelaki yang luar biasa, lelaki yang tak pernah mengatakan lelah bahkan saat ia sakit Sekalipun ia masih bertanya bagaimana dengan kuliahku.
semoga setiap tetes keringat ayah, Allah balas dengan kebahagiaan.