Syahdan, ketika semua anak-anak kecil sedang disibukkan dengan gawainya, lima bocah kecil bertelanjang dada itu sedang melakukan permufakatan masa depan. Tak tahu apa yang melatarbelakangi perundingan tersebut. Raut muka mereka begitu serius, tak kalah dengan wakil rakyat di sana.
"Kita akan membuat cerita hebat di masa depan?" ungkap Petruk. "Bagaimana caranya?" tanya Gareng sambil menggaruk-garuk rambutnya.
"Perjalanan kita akan di mulai dari sebuah penjara bernama sekolah," jawab Bagong dengan mantap. "Lalu?" Semar pun bertanya.
"Dari dalam penjara itu kita akan mendapat berbagai macam sumber dan literasi yang kita butuhkan untuk mengungkap jalan masa depan. Kita juga akan merakit berbagai amunisi sebagai bekal pertahanan diri, meramu berbagai obat untuk ketahanan fisik agar tetap prima. Semuanya akan kita dapatkan di sana. Bersabarlah dengan semua yang ada di dalamnya. Tetap yakin bahwa semakin ketat penjagaan dalam penjara itu, semakin kuat juga pribadi kita saat keluar nantinya." Bagong menjelaskan.
"Lalu siapa yang akan mengeluarkan kita dari sana nantinya?" Semar bertanya lagi.
"Dalam ujian perang Bharatayudha nanti akan terjadi berbagai macam serangan yg akan menghancur leburkan tembok-tembok penjara ini. Kita tak pernah tahu kapan itu terjadi, yang kita perlukan hanya kesiap siagaan agar kita tak tidur saat peristiwa itu," Petruk menambahkan.
"Dari mana kau tahu semua itu terjadi?" Gareng bertanya. "Aku telah mencuri sebuah skenario masa depan dari sang dewa, skenario itu tertulis rapi dalam sel otakku. Yang aku butuhkan hanya nutrisi doa dan harapan agar ingatanku tak pernah lumpuh hingga saatnya tiba." Bagong menutup percakapan.
(konspirasi tulang punggung, sebuah teka-teki yang tak pernah terselesaikan, 1991silam)