Keterbatasan Bukan Kendala Kebahagiaan

Words
247
Reading
2 min
Listen
Play
8y

Saya baru-baru ini melakukan perjalanan ke Kecamatan Sungai Mas, Kabupaten Aceh Barat. Kecamatan ini daerah tetpencil yang berbatasan dengan Kabupaten Pidie.

Tujuan saya aladah ke Desa Lung Baro, saya ingin melihat anak-anak sekolah yang menggunakan rakit sebagai alat transportasi penyeberangan ke sekolah. Di dua desa seberang Desa Paya Baro dan Siput belum memiliki jalan dan jembatan.

Saya melihat semangat yang luar biasa dari anak-anak pedesaan ini. Walaupun kesusahan trasportasi penyeberangan, mereka tetap bersekolah. Semangat seperti ini harus dimiliki setiap anak sekolah.

Mereka masih bisa tersenyum gembira, tak ada rasa takut dari raut wajah mereka. Padalah mereka baru saja melintasi bayaha. Entah karena tidak tahu atau memang tidak ada rasa takut lagi, karena faktor kebiasaan.

Apapun ceritanya sungai tersebut sangat bahaya bagi anak-anak sekolah. Airnya kencang dan dalam, kapan saja siap menghanyutkan siapa saja yang jatuh ke sungai.

Saya merasa iba, ke mana uang Aceh yang begitu banyak dibawa? Kepada siapa di berikan? Sehingga daerah ini tidak ada jalan dan tidak ada jembatan sejak nenek moyang mereka.

Rakit yang siswa gunakan untuk menyeberang berasal dari swadaya orang tua murid. Inisiatif ini karena orang tua murid ingin anaknya sekolah, sepeti anak di perkotaan.

Keterbatasan fasilitas bukan menjadi kendala bagi anak-anak di sana. Mereka juga ingin menggapai cita-cita yang telah ditanamkan dalam jiwanya. Salah satu dari mereka ada yang bercita-cita ingin jadi gubernur agar bisa membangun jembatan dan jalan di desa mereka.

Hanya sampai disisi cerita perjalanan saya hari ini, di kawasan pedalaman Aceh Barat. Yang paling penting selalu bahagian.

IMG_20180407_151050.jpg

IMG_20180330_184812.jpg

Keterbatasan Bukan Kendala Kebahagiaan | Ecency