Schools are not the only place for studying as well as teachers are not the merely resource for students. The students are freely can learn wherever they want it and whomever the educators are. In Sukma Bangsa School, we teach our students that every place are good to obtain your knowledge and everyone can be your teacher, even the janitor of the school, the librarian, the security, etc. For illustration, the students learn how to cook fried noodle from the cook at the school canteen. Other day, they learn how to make chocolate at Socolate chocolate factory in Pidie. They also visited a villager in order to observe how they plant rice in the rice field. How they enjoy the way of such learning.
That day, the seventh graders visited Pajak Impress, the biggest traditional market in the town, located in Lhokseumawe, Aceh. They interviewed several sellers on what things they sold, and the buyers in relation to the topic "Shopping List". The students wanted to identify what things most people bought in the market and how much the price of those things was. The purpose of this activity was not only to make the students write and mention the names of things such as vegetables, fruits, fish, etc, but also to let them understand the economic transaction in the market between two people or more. Besides, It was aimed to make the students confidently practice "Asking for and Giving Information" in the real world. Even though it was a project of the English Class, They did the action using the local language, Acehnese, or Indonesian to avoid misunderstanding. A piece of paper was brought by them to write the information they got from the targets.
What the teacher did then?
After giving some instructions related to this outdoor-class activity. The teachers went around the market to observe how they worked. From the observation, the teacher found that many of students were brave enough to approach, to ask, and to thank to the purchasers for their good responding. Only few of them who had no any courage, and then they just decided to work in two or three of friends.
After an hour, both students and teachers were sitting under the tree and having some snacks and drinks. They chatted each other and I could hear clearly that they said it was tiring day. Located in Taman Riyadhah, then they take turn telling their experiences in front of all. Some of them argued that their respondents were very welcome. They voluntarily responded to each given questions. On the other hand, some of the students said, "it's not easy to face people in the crowd, they are so busy to buy this one, that one, and they don't want to care about us, our interview too". What a day!
Hearing that the teacher kept asking them several questions to dig up their great experiences, their feelings, and thought about today's activity. She also discussed the data collected by the students about the shopping list, the shoppers' reason why they shopped such listed things in the market, how much the price were for each item, the most wanted thing searched by the buyers, and etc. They had to present the result of survey in English (in written and orally) next meeting.
As mentioned before, the learning purpose of this study used such teaching methods were as follows; 1) The students were able to rewrite some vocabularies in shopping list they have learnt in the class. 2) They were able to ask information to the people in the market. 3) They learnt how to present the fact based on the data. 4) To train students' confidence to talk in public place.
In conclusion, this is one way to bring them to the community or to the real world because when the children get involve on what they learn, they can feel that the learning is meaningful.
[source] (http://jurnalwarnawarni.blogspot.com/2013/08/kutipan-kutipan-pendidikan-terbaik-1.html)
In Bahasa Indonesia
Sekolah bukanlah satu-satunya tempat untuk belajar. Begitu pula dengan guru, guru bukanlah menjadi satu-satunya sumber ilmu bagi siswa-siswi di sekolah. Mereka dapat belajar dengan bebas dimanapun dan dengan siapapun. Di Sekolah Sukma Bangsa, anak-anak ini diajarkan bahwa semua tempat adalah kelas yang baik untuk mendapatkan ilmu-ilmu baru, dan semua orang dapat menjadi gurunya, bahkan para petugas kebersihan, petugas perpustakaan, para satpam juga dapat menjadi guru-guru mereka. Sebagai contoh, anak-anak belajar bagaimana membuat Mie Goreng dari ibu-ibu petugas masak di kantin sekolah. Di hari yang lain, mereka belajar cara mengolah cokelat di pabrik cokelat Socolate yang terletak di Pidie. Mereka juga mengunjungi kampung untuk memperhatikan bagaimana para petani menanam padi di sawah. Mereka tampak sangat menikmati cara belajar yang seperti ini.
Hari itu, anak-anak kelas VII beramai-ramai datang berkunjung ke Pasar Impress kota Lhokseumawe. Mereka melakukan tanya jawab kepada para pedagang yang sedang beraktifitas menjual barang dagangannya, juga kepada para pembeli yang sedang berbelanja. Dalam kegiatan ini, anak-anak bermaksud ingin mengetahui barang apa yang paling banyak dibeli oleh para pembeli dan berapa harga dari setiap barang tersebut. Tujuan pembelajarannya adalah mereka berlatih tidak hanya menuliskan kembali barang-barang dari daftar belanjaan seperti jenis sayuran, buah-buahan, ikan, dan barang lainnya, akan tetapi juga agar mereka memperhatikan langsung dan memahami bagaimana terjadinya transaksi jual beli diantara penjual dan pembeli di pasar. Selain itu, kegiatan di pasar ini juga bertujuan untuk melatih kepercayaan diri anak saat mempraktekkan “menanyakan dan memberikan informasi” di dunia yang sesungguhnya. Meskipun ini adalah proyek di kelas Bahasa Inggris (yang harusnya mereka bertanya dan merespon menggunakan Bahasa Inggris), mereka tetap menggunakan bahasa daerah, yaitu bahasa Aceh, atau Bahasa Indonesia saat menanyakan informasi kepada para penjual dan pembeli untuk menghindari terjadinya kesalahpahaman. Anak-anak mencatat semua informasi yang mereka dapatkan di lembar kerja yang sudah dibagikan sebelumnya.
Bagaimana dengan guru, apa yang ia lakukan saat anak-anak sedang melakukan tugas lapangan?
Setelah memberikan instruksi terhadap tugas dalam kegiatan ini, guru jalan-jalan berkeliling pasar (hehehehe,,bukan untuk belanja ya!) untuk mengamati anak-anak yang sedang “action” dalam proses pembelajaran di pasar kali ini. Dari hasil observasi, guru mendapati bahwa sebagian besar anak terlihat sangat berani saat menyapa, membuka percakapan dengan para target interview, bertanya informasi, kemudian menutup dengan ucapan terima kasih atas responnya yang baik. Hanya ada beberapa anak saja yang terlihat tidak berani melakukan tugas ini secara individu hingga akhirnya dia bergabung dengan kawannya yang lain.
Setelah satu jam, guru dan siswa beristirahat di bawah pohon sembari makan dan minum. Terdengar sesama mereka saling bercerita tentang pengalaman melakukan interview dengan orang-orang di pasar tadi. Ada juga yang berkomentar bahwa kegiatan belajar di pasar ini sangat melelahkan. Di Taman Riyadhah ini, guru mengambil kesempatan untuk meminta mereka mengungkapkan apa yang mereka alami, rasakan, dan fikirkan di depan agar dapat didengar oleh semua peserta didik. Ada beberapa anak mengemukakan bahwa mereka senang karena mendapati responden yang sangat ramah yang mau menjawab pertanyaan-pertanyaan mereka. Sebaliknya, ada pula anak yang mengungkapkan bahwa, “tidak mudah untuk menghadapi orang di khalayak ramai seperti pasar ini. Orang-orang sangat sibuk bertransaksi, beli ini dan itu, sehingga kurang memperdulikan kami yang bertanya ini dan itu".
Mendengar pendapat dan keluhan tersebut, guru terus saja memancing mereka dengan pertanyaan-pertanyaan terkait pengalaman belajar mereka di pasar, perasaan mereka, dan pandangan mereka terhadap kegiatan hari ini. Guru juga mengajak anak-anak berdiskusi tentang data/informasi yang mereka peroleh dari hasil interview para penjual dan pembeli terkait daftar belanjaan, harga barang, barang yang paling banyak dicari pembeli, dan lain sebagainya. “Poin-poin tersebut akan menjadi bahan presentasi di pertemuan berikutnya”, guru menambahkan.
Sebagaimana yang telah disebutkan sebelumnya, bahwa tujuan belajar menggunakan metode ini adalah sebagai berikut: 1) siswa-siswi mampu menuliskan kembali (in English) semua kosa kata terkait daftar barang belanjaan sebagaimana yang mereka telah dipelajari di kelas pada pertemuan sebelumnya. 2) Siswa-siswi mampu menanyakan informasi kepada orang-orang yang ada dipasar dengan baik dan sopan. 3) Siswa-siswi belajar bagaimana mempresentasikan suatu fakta menggunakan data. 4) Melatih kepercayaan diri anak karena dapat berhadapan langsung dengan masyarakat di khalayak ramai. Kesimpulannya, mengunjungi pasar, melakukan interview dengan penjual dan pembeli, dan mencatat segala informasi yang diperoleh merupakan salah satu cara belajar untuk membuat anak dapat mengalami, merasakan, dan terlibat langsung terhadap apa yang telah dipelajarinya di kelas sehingga pembelajaran dapat menjadi lebih bermakna.
[source] (http://jurnalwarnawarni.blogspot.com/2013/08/kutipan-kutipan-pendidikan-terbaik-1.html)
Cheers,
city29