Tantangan berikutnya adalah mencari taksi menuju hostel yang berjarak 17,5 km dari Netaji Subhas Chandra Bose Internation Airport. Ada beberapa konter taksi resmi yang bisa ditemukan di luar bandara. Jika kamu punya aplikasi Uber, ini akan lebih membantumu selama berjalan-jalan di India. Taksi kuning yang kami pesan, sudah menanti di jalur penjemputan. Sopirnya terlihat lebih muda dariku. Mungkin sekitar 25 tahun dan dia mengebut bagai kesetanan menyusuri jalan raya yang tampak meriah dengan hiasan lampu menyambut Natal hingga ke gang-gang sepi dan gelap.
Park Street ternyata lebih meriah dalam menyambut Hari Natal yang akan berlangsung dua hari lagi. Setiap pohon dililiti lampu aneka warna hingga bermacam-macam hiasan khas Natal digantung di atas jalanan yang menerangi lalu lintas di bawahnya.
Seharusnya aku akan melewatkan perayaan malam Natal di Varanasi. Gara-gara penerbanganku ke sana dibatalkan akibat cuaca buruk sedangkan tiket kereta pun sudah ludes terjual. Akhirnya aku melewati satu malam lagi di Kolkata.
Bus yang kutumpangi dari bandara menuju hostel di Park Street melewati jalan-jalan dengan pemandangan kota yang campur aduk rasanya. Mengagumkan sekaligus mengagetkan. Semua tampak begitu tak asing tapi begitu baru. Seperti kamu pulang kampung setelah bertahun tak pernah pulang.
Tujuan awalku menaiki bus adalah ke stasiun kereta atau terminal bus untuk melanjutkan perjalanan ke Varanasi. Friska, kawan seperjalanan yang belum pernah kutemui, sudah menanti di hostel sana. Tapi setelah dihitung-hitung lagi lama perjalanannya, akhirnya kuputuskan untuk extend di Kolkata.
Aku berkenalan dengan Raj, laki-laki berusia 23 tahun, yang duduk di sampingku. Dia menawarkan diri untuk mengantarkanku ke Park Street karena dia juga mau ke sana untuk menemui teman perempuannya yang dikenal lewat Tinder.
Berkat Raj, aku berkesempatan menaiki metro (kereta bawah tanah). Raj bahkan menjelaskan bahwa Kolkata adalah kota pertama di India yang memiliki metro dan menunjukkan gerbong kereta pertama yang masih beroperasi sejak 36 tahun lalu. Kami berpisah di stasiun terakhir karena teman perempuannya sudah menunggu di sana.
Berikut adalah beberapa tempat di Kolkata yang sempat kami kunjungi.
Victoria Memorial ini gedungnya gede banget dan luasnya juga nggak main-main. Sampai pegal kakiku mengitari setengah bagian tamannya. Karena tiket masuk ke galerinya mahal, aku cuma berjalan-jalan di tamannya. Aku mengagumi bangunan marbel ini lalu keluar dari pintu gerbang utama. Ternyata konter tiket di gerbang utama ini dipadati para pengunjung yang ingin membeli tiket masuk. Di luar area Victoria Memorial, ada banyak kereta kuda yang dihias megah seperti kereta raja.
Perjalanan pulang dari Howrah Bridge juga seru banget. Kami melompat naik ke atas trem yang sedang berjalan karena gagal menemukan stasiunnya. Karena ini malam terakhir kami di Kolkata, kami pun menuntaskan rasa penasaran akan menonton film Bollywood. Hanya ada satu pilihan film yang akan tayang malam itu. Aku lupa judulnya dan ceritanya juga agak membosankan. Selepas jeda di pertengahan film, kami memutuskan pulang ke hostel.
Tiba di Park Street, jalan utama sudah diblok untuk festival malam Natal. Trotoar tumpah ruah sama orang-orang. Kafe-kafe pada penuh. Kami yang kelaparan harus antre cukup lama di KFC. Setelah berkemas, checkout, kami berjalan menyusuri jalan sambil terus mencoba mendapatkan tumpangan murah ke bandara. Malam Natal ketika warga Kolkata tumpah ruah ke jalanan yang berpusat di Park Street, mencari taksi yang memasang harga wajar itu susah banget. Untungnya di tengah perjalanan, kami bertemu dengan seorang cewek bersama dua temannya yang terpikat dengan penampilan Juki. Cewek ini yang membantu kami memesan Uber pada tengah malam itu. Kami tiba di bandara pada pukul satu dini hari.