Sahabat @steemit, apakabar semuanya. Semoga di Jumat ini, semua kita mendapat berkah yang berlimpah dari Allah SWT.
Sahabat steemian, membaca tulisan @medicamalia yang berjudul: Aceh, Ganja, Spiritualitas dan Skizofrenia (Part 1) mengingatkan saya pada tulisan lama yang pernah saya tulis tentang penderita Skizofrenia.
Tulisan ini sebelumnya sudah dipublikasi di Harian Analisa. Mengapa tulisan ini saya reposting lagi di sini @steemit? Ini hanya sekedar bebagi cerita dan refrensi tambahan, tentang penyakit tersebut. Karena, tulisan ini hasil dialog langsung dengan pasien yang menderita Skizofrenia tersebut.
Oke dech.. langsung aja kita simak tulisan di bawah semoga bermanfaat
Ilustrasi
SABTU malam, pertengahan Maret 2017, suasana kedai kopi di kawasan dekat Jembatan Pango, Banda Aceh, terlihat ramai. Hampir semua meja terisi para penikmat kopi sareng, khas Aceh. Mulai dari anak muda yang berkongkow sampai para keluarga yang membawa anak-anaknya.
Malam itu, kedai kopi itu bukan saja didatangi warga biasa, kalangan pejabat baik di level Provinsi Aceh atau Banda Aceh juga terlihat. Ceritanya pun beragam, mulai dari cerita anak muda hingga soal gonjang-ganjing politik Aceh.
Namun, menyeruput kopi pada malam itu terasa sangat beda. Pasalnya, saya bersama dua rekan yang duduk persis di pojok depan teras kedai kopi itu dihampiri dua orang. Mereka kemudian ikut nimbrung.
Keduanya ternyata adalah pasien BKO. Semula, hal itu tidak terungkap. Baru, setelah percakapan mengalir, akhirnya terbukalah rahasia tentang pasien BKO ini.
BKO di sini tidak ada hubungannya dengan kemiliteran atau kepolisian meski lazimnya hanya dua institusi negara tersebut yang menggunakan istilah tersebut. BKO ini maksudnya adalah “di bawah kendali obat”. Mereka ini adalah mantan penghuni Rumah Sakit Jiwa (RSJ) Banda Aceh. Namun, mereka sudah dinyatakan sembuh dan bebas kembali ke tengah masyarakat seperti sedia kala sebelum mereka menjadi penghuni “Jalan Kakap”.
“Jalan Kakap” sendiri merupakan istilah masyarakat Aceh terhadap pasien penderita gangguan kejiwaan yang dirawat di RSJ Banda Aceh. Sebab, RSJ itu berada di ujung Jalan Kakap, Lampriet Banda Aceh.
Malam itu, salah seorang pasien BKO, sebut saja Adi, mengisahkan pengalamannya pertama sekali naik pesawat terbang. Peristiwa itu terjadi Oktober 2011. Saat itu dia bersama temannya hendak ke Bogor, Jawa Barat, menghadiri Pekan Olahraga Jambore Kesehatan Jiwa, selama empat hari, 8-11 Oktober 2011.
Ilustrasi
Di atas pesawat, Adi merasa mules dan ingin buang air besar. Hal ini disampaikannya ke dokter yang mendampinginya. Tapi, kurang mendapat respons. Hal sama diutaranya ke perawat. “Nanti aja. Sedikit lagi mau sampai Jakarta. Nanti di sana kamu BAB,” ujar perawat tersebut.
Namun, karena rasa mulas yang hebat, Adi tanpa pikir panjang langsung BAB di celana. Hal itu sontak membuat seluruh penumpang menghirup aroma tak sedap. Akhirnya, pramugari ikut panik.
“Ada WC, Mbak?” tanya perawat itu kepada pramugari.
“Tidak ada, yang ada hanya toilet,” ujar pramugari.
“Nah, ‘kan, nggak ada WC, Di. Yang ada hanya toilet,” ujar perawat itu pada Adi.
“Ya udah, toilet aja, ‘kan fungsinya sama,” ujar Adi sambil bergegas menuju toilet di bagian belakang pesawat setelah se¬belumnya bertanya kepada pramugari di mana letak toilet tersebut.
Sambil tertawa terbahak-bahak, Adi melanjutkan ceritanya. “Ternyata, perawat itu pun belum pernah naik pesawat dan itu baru pertama sekali, sama seperti saya. Dan dia enggak tahu kalau toilet itu sama dengan WC,” ujarnya. Kami terbahak-bahak mendengar cerita ini.
Lalu, apa saja yang diperlombakan dalam Pekan Olahraga Jambore Kesehatan Jiwa itu? Adi yang pernah divonis mengidap penyakit Skizofrenia akut ini mengaku ada sejumlah cabang, di antaranya lomba mengaji, futsal, cerdas cermat dan lomba lainnya.
“Gila-gila gini, saya pernah juara kedua mengaji dan juara ketiga futsal tingkat nasional. Meskipun peserta¬nya orang gila semua,” ujar Adi yang membuat kami kembali tertawa sampai mengundang perhatian pengunjung lain di kedai kopi itu.
Ingin Diperlakukan Normal
Ilustrasi
Sejujurnya, lanjut Adi, mereka (orang-orang yang dianggap gila) juga ingin bisa seperti manusia normal. Tetapi, terkadang perlakuan terhadap mereka terkesan tidak adil. Mereka mendapat perlakuan bahwa mereka benar-benar orang gila yang tidak ada gunanya.
“Saya bangga dengan Pak Din (almarhum Saifuddin Abdurrahman, mantan Direktur RSJ Banda Aceh saat itu). Dia memperlakukan kami sebagai sahabat, sering mengajak ngopi dan jalan-jalan bersama. Saat kami diperlakukan sebagai manusia biasa, kami bisa cepat normal,” kenangnya lirih.
Adi mengaku menghuni “Jalan Kakap” selama 10 tahun. Pada 2012, dia sudah diizinkan pulang ke keluarganya. Namun, dengan catatan harus rutin minum obat yang diberikan.
Selama itu, akunya, setiap hari dia harus minum clozapine, Chlorpromazine Orange atau di kalangan dunia kesehatan jiwa dengan nama CPZ orange. Obat ini diminum setiap mau tidur setiap malam. Kalau tidak, pikiran sering terganggu. Seakan ada halusinasi yang berbisik macam-macam di telinganya.
“Makanya, setiap malam saya minum ini. Begitu juga dengan Adan (menyebut nama),” ujarnya sambil menunjuk rekannya.
Dalam referensi kesehatan menyebutkan, Skizofrenia akut yang pernah diderita Adi merupakan gangguan kejiwaan yang mempengaruhi fungsi otak manusia, fungsi normal kognitif, emosional, dan tingkah laku.
Gangguan ini biasanya ditandai dengan hilangnya perasaan afektif atau respons emosional. Bahkan, penderita akan menarik diri dari pergaulan. Penderita Skizofrenia seringkali mengalami halusinasi dan delusi.
“Makanya kami disebut pasien BKO karena masih tergantung obat, tapi sudah dikembalikan ke tengah keluarga,” ujar Adan menimpali percakapan Adi.
Sekilas, kedua teman ngopi malam itu tidak seperti orang yang menderita kelainan jiwa. Kalau mereka tak bercerita latar belakangnya, kami tidak tahu meski sering duduk di warung kopi yang sama.
Rasa penasaran tentang kebenaran mereka adalah mantan penghuni “Jalan Kakap”, terlontar. Dan, Adi punya bukti kuat. Dia membuka dompet warna hitam miliknya, mengambil selembar kartu yang telah dilaminasi yang menunjukkan bukti bahwa dia pernah ikut kegiatan di Bogor tersebut.
“Yang asli ada di rumah. Ini sudah saya fotokopi dan diperkecil, lalu saya laminasi biar bisa disimpan di dompet,” ujarnya memperlihatkan kartu warna biru muda itu, lengkap dengan nama asli, dan foto serta ditandatangani Direktur RSJ Banda Aceh saat itu
Satu pesan kuat Adi malam itu ialah permintaan supaya mereka diperlakukan selayaknya manusia. Pesan ini mengingatkan kita pada kondisi baru-baru ini. Misalnya, banyaknya “orang gila” yang dihakimi massa karena dituduh pelaku penculikan anak.
Mampukah kita memenuhi permintaan Adi?
Note: Tulisan serupa juga bisa dibaca di BukuIranda
Lamsayeun, 27 April 2018
@catataniranda