Hari ini aku akan sedikit berbagi tentang Workshop Guru Program Presisi Tahun 2022 telah memasuki hari ketiga pada tanggal 08-07-2022 yang telah dua hari lalu terlewati. Alhamdulillah sejauh ini, dengan segala kekurangan yang kami miliki, program ini masih bisa berjalan dengan lancar dan tidak memiliki kendala yang berarti. Semangat Guru-guru yang ikut dalam kegiatan kita ini juga sangat masih bagus terjaga. Ada beberapa guru muda yang berperan penting untuk menghidupkan suasana diskusi yang kami lakukan. Interaksi di dalam Breakout terbilang cair dan santai.
Tema diskusi menarik jugalah, aku yakini, membuat para guru antusias untuk mendalami makna yang terkandung didalamnya. Yah, tema diskusi kami hari ini adalah "TRANSFORMASI PERAN GURU" bagian pertama. Modul pembelajaran untuk hari ini di split menjadi dua hari, agar para guru dapat optimal dalam menjalani semua tahapan dari apa yang disusun oleh tim perumus modul program Presisi ini. Kegiatan pada hari ketiga ini masih dimulai dengan belajar mandiri para guru (Asinkronus), dengan mengakses website yang dirancang khusus agar guru-guru bisa lebih mudah untuk menuangkan gagasan dan pemahaman mereka terhadap program ini secara keseluruhan.
Kegiatan belajar mandiri ini kemudian berlanjut dengan sesi tatap muka setelahnya. Di Break Out Room, saya dan Vena secara bergantian memaparkan materi tentang penguatan peran guru dalam pembelajaran kontekstual berbasis proyek. Disini para guru diminta untuk merefleksikan peran mereka sebagai among yang tugasnya sebagai pendamping belajar. Guru diharapkan dapat membangun kemitraan dengan siswa untuk memaksimalkan potensinya melalui proses kreatif agar tujuan belajarnya dapat tercapai.
Guru juga berperan sebagai MENTOR untuk membagikan wawasan dan pengalaman sesuai bidang yang dikuasainya. Guru masih salah satu sumber belajar bagi siswa. Meskipun kondisi dewasa ini ketika sumber belajar bisa diakses melalui dunia digital dengan mudah, peran guru sebagai mentor untuk memberikan pertimbangan tertentu sangat penting agar siswa tidak mengalami kendala dalam menyelesaikan proyek belajarnya. Memberikan masukan kepada siswa, terkait potensi narasumber yang bisa ditemui untuk mendukung proyek karyanya juga sangat krusial.
Menjalani peran sebagai konselor dalam memandu siswa untuk menggali potensi diri, kelebihan dan kekurangan juga sama pentingnya dengan uraian sebelumnya. Ini dimaksudkan agar siswa bisa mengenali potensi kegagalan dalam mengambil keputusan yang tepat dan mampu berfikir jernih untuk membuat keputusan yang sehat. Untuk itu guru harus memiliki kemampuan konseling, sehingga siswa punya teman bercerita dan bertukar pikiran. Guru juga diharapkan dapat menciptakan suasana interaksi yang nyaman dan aman sehingga siswa merasakan kehangatan berkomunikasi dan merasa diperhatikan dengan baik.
Namun yang paling berkesan di hari ketiga ini adalah ketika guru secara bergantian memberikan pandangan terkait Transformasi Peran Guru ini. Dapat diambil kesimpulan, terasa sekali, semakin hari semakin bertambah pemahaman guru tentang semangat program Presisi ini. Semangat Ki Hadjar Dewantara terasa menjadi satu dalam untaian kata yang mereka sampaikan. Aku merasakan semangat itu menelusup membelaiku akan masa depan cerah dunia pendidikan kita kedepannya. Semoga hari-hari berikutnya para guru tetap terjaga semangatnya untuk membedah esensial pesan dari Program Presisi. Untuk hari ketiga ini, secara umum, diskusi kami menyenangkan dan terasa waktu berlalu dengan cepat. Namun masih ada hari berikutnya untuk kembali mengulang momen belajar bagi kami guna kesuksesan dalam mendampingi siswa kedepannya.
Sampai disini dulu cerita Presisi kami di hari ketiga ini, Hivers. Semoga apa yang kami lakukan ini bisa bermanfaat bagi generasi pendidikan kita, baik guru, murid, dan kami yang terlibat didalamnya. Melahirkan generasi penerus yang terdidik dengan guidance yang tepat adalah tugas kita bersama. Abai dalam hal ini adalah dosa jariyah yang akan kita tuai bersama. Ruang dan media untuk kegiatan serupa yang kami lakukan akan selalu ada bagi semua. Seperti yang tercantum dalam Undang-undang dasar negara kita, mencerdaskan kehidupan bangsa, selayaknya semangat Ki Hajar Dewantara diterapkan karena selaras dengan cita-cita kita dalam berbangsa dan bernegara.