Hello Everyone. Here is my entry for #monomad Challenges that hosted and curated by
@monochromes
Erecting a building that become a landmark of a city's pride has become a habit of government officials in various parts of the world. The historical value that underlies it certainly varies from place to place. I won't be looking to find out what the background of the other city landmarks is in this post.
Mendirikan bangunan yang menjadi landmark kebanggaan sebuah kota sudah menjadi kebiasaan penyelenggara negara di berbagai penjuru dunia. Nilai historis yang melandasi menjadi tentunya berbeda-beda antara satu tempat dengan lainnya. Aku tidak akan mencari tau apa latar belakang landmark kota lainnya dalam postingan ini.
What I focused on was the establishment of a monument, TUGU ANEUK MULIENG, as the name is pinned, in the city where I now live in Sigli, Aceh-Indonesia. The monument that depicts this city as a producer of melinjo seeds which has become one of the commodities that supports the economy of the Pidie people from time to time.
Apa yang menjadi fokusku adalah pendirian sebuah tugu monumental, TUGU ANEUK MULIENG, demikian nama yang disematkan, di kota yang kini kutinggali di Sigli, Aceh-Indonesia. Tugu yang menggambarkan kota ini sebagai penghasil biji melinjo yang menjadi salah satu komoditas penopang ekonomi Masyarakat Pidie dari masa ke masa.
The Aneuk Mulieng Monument is designed to resemble a large melinjo seed, which is surrounded by 23 smaller melinjo seeds. This figure represents 23 sub-districts in Pidie Regency. Around the monument, there are 22 fountain points that give a majestic and cool feel. The construction of the Aneuk Mulieng Monument began in 2021, during the previous government.
Tugu Aneuk Mulieng dirancang menyerupai sebuah biji melinjo besar, yang dikelilingi oleh 23 biji melinjo yang lebih kecil. Angka ini mewakilkan 23 kecamatan yang ada di Kabupaten Pidie. Di sekeliling tugu, terdapat 22 titik air mancur yang memberikan nuansa megah sekaligus sejuk. Pembangunan Tugu Aneuk Mulieng mulai dirintis pada tahun 2021, di masa pemerintahan sebelumnya.
Quoting the statement of the architect, Dr. Zulhadi, a son of the birthplace of Ujong Rimba village, Pidie, in local online media, "the design of this monument is not only aesthetic, but also depicts harmony and cooperation between the government and the community. We have compiled this concept to strengthen the identity of Pidie as an area rich in tradition and culture," he said.
Mengutip pernyataan sang arsitek, Dr Zulhadi, seorang putra daerah kelahiran desa Ujong Rimba, Pidie, desain tugu ini bukan hanya sekadar estetika, tetapi juga menggambarkan harmoni dan kerja sama antara pemerintah dan masyarakat. “Konsep ini kami susun untuk memperkuat identitas Pidie sebagai daerah yang kaya akan tradisi dan budaya,” ujarnya.
If you want to examine it, there is a statement that seems bombastic but the context is not clear from the statement of the architect of this city's landmark. With a budget spent of 1.9 billion rupiah, this monument seems to disturb us researchers who heard that this monument was born from whispers. They whispered so that the people would not hear that there were many fragments that sneaked silently into the coffers of the stakeholders involved in it.
Kalau mau ditelisik, ada pernyataan yang terkesan bombastis namun konteksnya tidak jelas dari pernyataan sang arsitek landmark kota ini. Dengan anggaran yang dihabiskan di angka 1,9 milyar rupiah, tugu ini seolah mengusik kami para penelisik yang mendengar tugu ini lahirnya dari bisik-bisik. Mereka berbisik agar rakyat tak mendengar bahwa ada banyak serpihan yang menyelinap senyap ke pundi-pundi stakeholder yang terlibat didalamnya.
The trend of erecting monumental buildings does occur in many places in Indonesia. What is very monumental is of course the construction of the new national capital (IKN) in Kalimantan which consumes the state budget. The king of Java wanted to fulfill his legacy with something real. Of course, while unraveling from anywhere, the fragments of funds can flow to state administrators and their cronies. Here's our portrait in a third world country today.
Tren mendirikan bangunan monumental ini memang terjadi di banyak tempat di Indonesia. Yang sangat monumental tentunya pembangunan Ibukota negara baru (IKN) di Kalimantan yang lahap menghabiskan anggaran belanja negara. Sang raja jawa ingin mengejahwantahkan legacynya dengan sesuatu yang nyata. Tentu saja sembari mengurai dari mana saja serpihan dana bisa mengucur ke penyelenggara negara dan kroninya. Inilah potret kami di negara dunia ketiga hari ini.
| Camera Used | Category | Location |
|---|---|---|
| Smartphone Samsung SM A52s | Black And White Photography | Sigli, Aceh-Indonesia |