Today I am going to share you some pictures that I took on the Subuh Safari trip with the Al-Falah mosque group in Sigli city. I am going to call it a spiritual journey to light. The light that gives us the direction of the light path to His day. A journey that requires light as a light for us not to lose our way in living life. The journey to the Divine light that is the bright end of it all.
Perjalanan safari subuh bersama rombongan masjid Al-Falah kota Sigli itu akan aku sebut sebagai perjalanan spiritual menuju cahaya. Cahaya yang memberikan kita arah jalan terang menuju ke haribaan-NYA. Perjalanan yang memerlukan cahaya sebagai penerang untuk kita tidak kehilangan arah dalam menjalani kehidupan. Perjalanan menuju cahaya Ilahi yang merupakan ujung terang benderang dari semuanya.
That morning I got a phone call from a friend from college. A few days earlier he had invited me to join a Subuh Safari group for an activity filled with lectures from Ustadz and usually moving from one mosque to another. Back that morning, around 4.30 am, Maimun Qadar, my friend contacted me via the Whassap application. Long story short, I rushed to the bathroom to clean myself. After 10 minutes, Maimun picked me up at the PMI office where I had lived for the last 8 months.
Pagi itu aku mendapatkan panggilan telpon dari teman semasa kuliah dulu. Beberapa hari sebelumnya dia mengajakku ikut serta dengan rombongan safari subuh untuk sebuah kegiatan yang diisi dengan ceramah dari Ustadz dan biasanya berpinda-pindah dari satu masjid ke masjid lainnya. Kembali ke pagi itu, berkisar jam 4.30, Maimun Qadar, temanku menghubungiku via Whassap aplikasi. Singkat cerita, aku bergegas ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Selang 10 menit kemudian, Maimun menjemputku di kantor PMI yang kudiami 8 bulan terakhir.
Gampong Baro Village, Kembang Tanjong district was the place we went to that day. By traveling approximately 20 kilometers, we arrived there when the call to prayer began to be pronounced. We hurried down from the car and went to the place of ablution and carried out congregational prayers. After the prayer, the lecture activity which presented the vice rector of the State Islamic University (UIN) Ar-Raniry Banda Aceh as a speaker began.
Desa Gampong Baro, kecamatan Kembang Tanjong adalah tempat yang kami tuju hari itu. Dengan menempuh perjalanan kurang lebih 20 kilometer, kami tiba disana pada saat azan mulai dikumandangkan. Kami bergegas turun dari mobil dan menuju tempat wudhuk dan melaksanakan sholat berjamaah. Setelah shalat, kegiatan ceramah yang menghadirkan wakil rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Ar-Raniry Banda Aceh sebagai penceramah dimulai.
The content of the lecture from the ustadz was very relevant to me. He talked about debt and usury which are currently rampant among the people of Aceh. The emphasis on the important points of his lecture is very memorable to be absorbed. Like refreshments for things that I generally already know but often miss and are a little forgotten. Learning and having to repeat, that is the essence of the way we interpret our existence on earth. So never stops to learn because life never stops teaching us.
Isi ceramah dari ustadz sangat mengena sekali bagiku. Beliau berbicara tentang hutang dan riba yang saat ini marak dikalangan Masyarakat Aceh. Penekanan-penekanan untuk poin-poin penting dari ceramah beliau sangat berkesan untuk diresapi. Seperti penyegaran untuk hal-hal yang umumnya sudah aku ketahui namun kerap luput dan sedikit terlupakan. Belajar dan harus diulang-ulang, itu adalah inti dari dari cara kita memaknai keberadaan kita di muka bumi. Jadi jangan pernah berhenti belajar karena hidup tak pernah berhenti mengajarkan kita.