Rutinitas pagi hari biasanya dimulai dengan mengantarkan puteri kami kesekolah setelah itu langsung melanjutkan perjalanan ke kantor dengan mengendarai sepeda motor roda dua. Jarak dari tempat tinggal ke sekolah sekitar 5 kilometér dapat di tempuh dengan kondisi lalu lintas yang normal dapat ditempuh sekitar 10 menit berkendara.
Waktu ini biasanya kami (saya dan puteri saya) diisi dengan obrolan santai dan cerita diseputar dinamika yang terjadi disekolah. Cerita tentang tingkah polah teman di sekolah kerap menjadi topik pembicaraan father and daughter. Topik pembicaraan dalam quality time ini biasanya tidak muncul dalam diskusi dan obrolan kami sehari hari di rumah. Waktu mengantar ke sekolah menjadi waktu spesial bagi kami berdua.
Biasanya saya berkendara dengan santai dan tertib. Pertama karena tidak diburu waktu, kedua karena ada obrolan yang perlu saya simak selama perjalanan ke sekolah ini, dan ketiga karena kita ingin selamat sampai di tujuan.
Pada suatu kesempatan ada kalanya ketika sedang dalam perjalanan sambil berkendara menuju sekolah ini, ada pengguna jalan lain yang dengan tiba-tiba menyerobot jalan sehingga membahayakan pengguna jalan lain dan saya juga tentunya. Pengendara ini, mungkin karena tergesa gesa hampir saja menyerempet saya. Untungnya tidak sempat terjadi senggolan yang bisa berakibat fatal tentunya.Termasuk saya juga tentunya. Reaksi saya kaget, yang muncul dari mulut spontan memaki dan mengumpat nama binatang yang mirip manusia itu. Jika belum puas saya rasa, darah muda yang bergejolak karena merasa dilecehkan ini, dengan seketika meningkatkan kecepatan dengan menarik gas motor lebih dalam lagi untuk membalas dengan perlakuan yang sama.
Nah, disinilah peran pendidikan itu. Saya pribadi yang sudah seumur ini pastinya sudah tau untuk tidak membalas yang jahat dengan yang jahat. Masih di KANGKANGI di emosi dan nafsu sesaat. Anak kelas 4 sekolah dasar ini biasanya menjalankan tugasnya dengan baik. Sambil menguncang-guncangkan badan saya dengan lengan kecilnya ia berkata: " Papa ngapain sih? Nanti bisa ngga selamat sampai sekolah nih!", umpatnya.
Seketika itu pula saya tersentak dan mengamini perkataan MALAIKAT KECIL ini ini, bahwa ada tujuan yang lebih besar yang hendak dicapai, dibandingkan dengan mengikuti nafsu sesaat saja, biar bisa membalas perbuatan jahat yang baru saja saya terima.
Sejatinya pendidikan bertujuan membentuk karakter. Menjadikankannya sebagai pedoman, penghayatan dan pengamalan pada perilaku sehari-hari. Ada semacam golden rules yang kira-kira bunyinya: " Bila kita belajar sesuatu yang baik dan kita tidak berubah, maka hanya tersisa dua kemungkinan. Pertama yang dipelajarinya salah atau orangnya yang salah tidak mau berubah. Hal ini sejalan dengan ajaran dan anjuran nilai kemanusiaan yang universal".
Ternyata umur yang banyak, pengalaman hidup yang panjang tidak menjamin sebuah pribadi menjadi baik, dewasa dan matang serta berkontribusi baik bagi lingkungan sekitarnya. Perlu teguran dari seorang malaikat kecil untuk mengingatkan saya kembali pada tujuan utama yang hendak di capai.
Seperti kata orang bijak:
Uncontemplate life is life not worthy of living
Dengan bahasa sederhana, HIDUP YANG TAK DIMAKNAI ADALAH HIDUP YANG TIDAK BERMAKNA.
Salam hangat
Hari.bagindo