MENULIS ULANG SEJARAH INDONESIA

Words
514
Reading
3 min
Listen
Play
9y

Sejak usia sekolah, kerap kali kita di perdengarkan oleh kisah kepahlawanan. Setiap wilayah Indonesia memiliki epic kepahlawanannya masing-masing, Mulai dari masa masa kerajaan berlanjut masa perebutan kemerdekaan sampai masa pembangunan saat ini.

Para pahlawan ini biasanya di kisahkan secara gegap gempita. Mulai dari kiprahnya dalam masyarakat, hasil perjuangan, pencapaian beserta segala kemasyuran yang mengikutinya.

Hal baik dan mulia selalu mendominasi latar penulisan kisah kisah kepahlawanan dan heroisme ini. Padahal para pahlawan ini juga manusia biasa yang penuh dengan kesalahan, keterbatasan. Sebagai manusia tentu ada kehendak pribadi atau keinginan pribadi yang terus bergelut dengan kepentingan kelompok atau banyak orang. Ada kompromi, ada dialektika pemikiran, proses menimbang nimbang antara baik dan benar, tujuan dengan cara, keinginan dan kebutuhan. Dalam bahasa teknisnya, selalu ada rational choices dalam setiap keputusan dan tindakan.

Sebenarnya rational choices ini yang akan menghasilkan buahnya berupa kata kata dan tindakan. Sejarah Indonesia sejatinya dibingkai oleh proses memilih pilihan yang paling rasional dari beragam opsi yang tersedia dari pelaku sejarah dulu yang kita kenal sekarang sebagai pahlawan. Sebenarnya disinilah letak kepahlawan itu sebenarnya berasal. " melakukan pilihan sulit yang dianggap terbaik dari semua pilihan sulit yang tersedia" .Waktu jualah yang akan membuktikan kebenaran serta kesahihan hasil pilihan pilihan dimasa lalu baik-buruk, benar-salah, manfaat-percumanya.

Catatan catatan sejarah kita sedikit sekali mengobservasi proses menimbang nimbang apa saja suasana yang menggelayut munculnyai suatu tindakan, hadirnya suatu keputusan, munculnya sebuah tuntutan. Observasi adalah sesuatu pengamatan yang disepakati oleh semua orang yang menyaksikan. Misal: "mobil biru" adalah sebuah observasi, dapat disepakati oleh semua orang. Sedangkan, "mobilnya bagus" adalah sebuah judgment, tidak bisa disepakati semua orang, tergantung subjektivitas orang per orang.

Hanya karena perbedaan sederhana antara OBSERVASI dan JUDGMENT kita seringkali tidak dapat mengambil mengambil pelajaran dari sejarah karena terlalu diselimuti oleh subjektivitas subjektivitas penulis.

Contoh, penulis sejarah di Australia menulis bahwa ada suatu waktu dalam sejarah Australia melakukan pembunuhan terhadap suku Aborigin, bahkan negara melakukan dikriminasi dengan undang undangnya terhadap suku ini. Tetapi sekarang sudah tidak lagi. Dengan mengakui sejarah, meskipun sejarah yang kelam sekalipun, Sejarawan Australia dapat memberi pelajaran yang baik kepada generasi mudanya agar tidak melakukan kesalahan seperti para pendahulunya.

Sejarah Amerika pun tidak berbeda, siapapun dapat membaca betapa kelamnya perang sipil yang membentuk Amerika hingga seperti sekarang ini. Mereka bisa berdamai dengan masa lalu setelah itu sepakat untuk melangkah ke depan setelah observasi dituliskan sebenar benarnya beserta suasana kebatinan yang melingkupinya sekaligus memberi pelajaran kepada generasi mudanya.

Indonesia harus belajar untuk berdamai dengan sejarah, selama sejarah tidak dituls dengan observasi yang sahih tetapi kental dengan judgment, selama itu pula kita tidak jujur dengan sejarah, dan selama itu pula kebohongan yang akan diteruskan dari generasi ke generasi.

Apa salahnya berkata bahwa setiap raja nusantara memiliki banyak istri sebagai contoh. Atau setiap raja nusantara selalu di khianati oleh orang dekatnya.

Dengan kejujuran kejujuran yang sederhana, banyak hal baik yang akan kita wariskan kepada generasi berikutnya.

Sampai saat ini sejarah Indonesia masih diselimuti polemik yang tidak berkesudahan. Kesalahan tidak mau diakui akibatnya catatan catatan sejarah hanya berisi manipulasi manipulasi peristiwa sejarah saja yang tidak bisa diambil nilai belajarnya

Sekian dulu ya. Lain waktu kita sambung lagi.
Salam hangat
hari.bagindo

MENULIS ULANG SEJARAH INDONESIA | Ecency