Andaikan mengingat kematian menjadi penyerta dalam setiap tindakan, niscaya tidak lagi perbuatan kecuali kebajikan yang keluar dari raga. Bukan ingin yang disertai keputusasaan dalam berkarya, melainkan ingin yang membawa pada optimisme akan keridoan ilahi dan berbuat amal kebajikan.
Seorang pemimpin tidak akan lagi memutuskan sebuah kebijakan tanpa mempertimbangkan apakah kebijakan itu bermanfaat bagi rakyatnya atau tidak, bukan untuk kepentingan diri atau partainya. Dia juga akan kembali bertanya pada dirinya apakah kebijakan tersebut akan membawa keselamatan bagi dirinya di hari perhitungan kelak atau justru menjerumuskannya kepada kesengsaraan.
Demikian Rasulullah saw. Pun mengingatkan dengan tegas, pemimpin yang tidak memperhatikan kepentingan rakyatnya, tidak akan diperhitungkan oleh Allah di hari akhirat. Astaghfirullaah, alangkah sengsaranya ketika seorang manusia sudah tidak lagi dipedulikan oleh sang penciptanya.
Ketakutan rakyat kecil dalam menjalani kehidupan yang semakin berat karena harga BBM naik, tarif listrik melonjak, akan terkalahkan oleh hebatnya ketakutan menghadapi kematian. Sehingga rasa ikhlas menghadapi sulit dan ganasnya kehidupan, tidak menjerumuskan dirinya pada keputusasaan, tetapi malah menimbulkan semangat untuk berbenah agar tidak sengsara di kehidupan yang abadi kelak. Kondisi bangsa indonesia yang dipenuhi dengan krisis dan masalah ini disebabkan pemimpin dan rakyatnya kurang mengingat kematian.
Salam sayang @ayuni83