Aku kembali duduk bersimpul,
Berjejeran barisan bentuk kesopanan,
Di sampingku duduklah dia
Tangan lembutnya menampar iblis betina itu.
Aku bertambah semangat, tak kubiarkan hukum gulung tikar. Aku akan tetap duduk, meskipun tidak sepenuhnya nyata, hanyalah sandiwara.
Baju mereka sudah kumuh kumal, hingga mulut merekapun sudah sangat bau. Aku memberi mereka lambaian, lambaian kering penuh rasa.
Hidup dan matilah dalam agama, jangan menghinanya.