Kampanye konsumsi makanan yang beragam, bergizi, seimbang dan aman terus digalakkan oleh pemerintah. Salah satunya melalui peningkatan jumlah konsumsi sayur-sayuran di tingkat masyarakat. Di Aceh kegemaran masyarakat untuk mengkonsumsi sayur ternyata masih rendah. Dapat dikatakan orang Aceh malas atawa beuo makan sayur. Padahal jenis makanan ini memiliki banyak manfaat.
Berdasarkan data tahun 2016, konsumsi sayur masyarakat Aceh hanya memperoleh skor 70,6. Padahal target provinsi mencapai skor 80. Sementara target nasional berada di angka 86. Memerlukan waktu hingga lima tahun untuk meningkatkan tingkat konsumsi sayur masyarakat Aceh hingga dapat menyentuh target provinsi. Salah satunya melalui program kawasan rumah pangan lestari. Ini merupakan program yang dikembangkan oleh Dinas Pangan Aceh. Tujuannya adalah mendorong masyarakat untuk memanfaatkan perkarangan rumah untuk memenuhi pangan keluarga.
Dinas Pangan Aceh sengaja membangun pusat edukasi bagi masyarakat yang disebut sebagai NAKASIPAN atau naungan perkarangan edukasi pangan Banda Aceh. Di sini berdiri sebuah kebun hidroponik yang ditanami beragam jenis sayuran organik seperti sawi, selada merah, selada hijau, kangkung dan kailan.
Kebun hidroponik sebenarnya dapat dibangun dengan lebih sederhana. Dengan modal yang tidak terlalu besar masyarakat dapat mengoptimalkan luas lahan perkarangan yang ada.
Program NAKASIPAN sebenarnya lebih menyasar kelompok tani perempuan yang dianggap lebih terampil. Tujuan akhir dari program ini adalah setiap rumah tangga dapat memenuhi pangan secara mandiri. Bila kampanye ini berlangsung sukses maka bukan saja meningkatkan kegemaran masyarakat dalam mengkonsumsi sayur namun juga mengurangi pengeluaran keluarga melalui optimalisasi perkarangan rumah yang tersedia.
Bagi yang ingin belajar cara mengembangkan hidroponik dapat langsung berkunjung ke Dinas Pangan Aceh di komplek keistimewaan di sebelah kantor Gubernur Aceh.