harus kubaca singgahmu dengan makna yang berbeda, ketika rintik yang kau guyurkan adalah hujan buatan, sedang aku terlanjur hanyut pada derainya
harus kupahami gerimis yang kau jatuhkan dengan rasa yang lain, sedang aku terlanjur basah dengan rinainya yang menjadi cinta
salahkah aku ketika makna yang tergenggam kuartikan nyata, sedang kekata yang kau risalahkan teramat menghujam dada
andai air aksara telah menyatu dalam bumi yang bermadah, lebur dalam satu rasa yang mengaduk isi dada, apakah aku salah mengartikannya?