Malam minggu, dalam kesendirian, sambil menyeruput sisa kopi yang sorenya dibawa sahabatku Jalimin, coba merenung-renung. Tiba-tiba teringat bacaan tentang kisah Mukidin, kumpulan humor dalam kampung lucu.
Mukidin seorang petugas pentakmir masjid yang sekarang sudah makmur karena bisa korupsi di sana sini.
Begitu pun, ia merasa penasaran atas isi ceramah seorang uztad, bahwa tugas Setan itu menggoda Manusia agar berbuat jahat. "Kalau begitu siapa yang menggoda Setan?" guman Mukidin dalam hati.
Suatu ketika ia bertanya pada seorang Fakir. “Pak Kiai, setan itu kan punya tugas menggoda manusia, lalu siapa yang menggoda setan?” tanyanya agak sombong
“Ya kamu itu yang menggoda setan!” jawab sang Kiai seraya mengumbar tawa.
Mukidin pun ikut tertawa sampai-sampai perutnya yang buncit itu berguncang-guncang.
Suasana sejenak hening, dan Mukidin hanya tertunduk sambil merenungi dirinya. Benarkah dirinya bisa menggoda setan, sedangkan setan dari ujung rambut hingga kakinya pun belum ia kenal?
Setelah beberapa bulan ia menyadari akan tindakan buruknya selama ini, ia bertobat lalu mendatangi Kiai Sufi itu.
“Benar Pak Kiai, saya memang sering menggoda setan.”
“Ya, kalau kamu tidak menggodanya, setan tidak berani menggodamu,” kata Kiai itu yang disambut manggut-manggut Mukidin.