Mungkin banyak di antara kita yang terdiam dan tiba-tiba tertawa, baik dalam hati maupun secara nyata, seperti dalam gerutu di warung kopi, dalam perbincangan biasa dengan sahabat, ada apa dengan moderenisasi kita saat ini?
Image by Hands off my tags! Michael Gaida from Pixabay
Pola kehidupan moderenisasi kita seakan-akan diganggu oleh hantu, yang tak lain berasal dari diri kita sendiri. Hantu itu, mengusik kita lebih banyak melalui media sosial, gamr, atau pun layanan video, sering juga kita mendengar melalui obrolan pola yang mengelitik ditengah kondisiwarung kopi yang bising.
Memang, agak sulit memisahkan antara nafsu kehidupan dunia, lebih-lebih nafsu akan kuasa dengan bentukan perintah berupa moderenisasi, yang identik dengan pelampiasan hawa nafsu. Kita menahan tangis, menjalankan kepribadian yang unik, bahkan sebagian yang taat beragama tetap menjalankan segala ibadah. Tapi, di sisi lain, kita tampak semakin garang dalam berkata-kata, kian tak peduli antara apakah yang kita sampaikan itu keliru, bahkan, moderenisasi tidak membuat kita semakin dekat dengan sesama manusia.
Moderenisasi, yang secara filosofis berarti pembebasan kita dari ketergantungan pada hal-hal yang bersifat primitif atau tertinggal. Menjadikan kita bebas dari adat, bebas dari keinginan-keinginan falsafah orang terdahulu. Moderenisasi yang berarti sebagai latihan akan penerimaan kemajuan jaman, yang memiliki tujuan jangka panjang agar kita dapat bekerja dengan baik selama menghadapi kehidupan masa depan. Seakan-akan tak berdetak di hadapan hasrat kuasa. Kuasa pun mengalahkan moderenisasi. Moderenisasi pun boleh jadi dipolitisasi sebagai momentum untuk bergerak, melawan imajinasi kesewenang-wenangan, ataupun kecurangan. Manusia pun terkurung dalam bayang-bayang moderenisasi Politik, bahwa manusa harus berdaulat, memegang tampuk kekuasaan, meski, dan berkoalisi dengan kelompok-kelompok yang cenderung ke fasis. Bayang-bayang itupun diangkat dan dinarasikan ulang oleh tingkatan para pejabat dengan nada garang, nada emosional, seakan-akan kondisi manusia sedang berada dalam kondisi kritis, dan harus segera dibangkitkan kembali. Mereka pun memancing masyarakat dengan pertanyaan; kenapa masih saja yang begitu dominan secara tatanan lama, tapi begitu lemah secara politik.
Pancingan lainnya melalui narasi-narasi yang membangkitkan ketakutan masyarakat pada ancaman, seperti pada ketertinggalan, terhadap kaum tidak terpelajar, dan tidak menerima akan kemajuan jaman. Walaupun akhirnya, segala informasi yang tampaknya menyudutkan masyarakat dan ditelan mentah-mentah, pemerataan akan moderenisasi tidak berbanding terbalik pada pelaksanaan serta kesiapannya, malah dengan tanpa curiga juga ikut-ikutan menyebar informasi tersebut. Masyarakat dibuat terkecoh, dan tiba-tiba ikut arus hijrah politik, mengangkat simbol-simbol yang memperjuangkan, sembari menjelek-jelekkan segala sesuatu yang tidak berbau tidak brbau moderenisasi, bahkan melakukan aksi menjatuhkan pemimpin yang memimpin. Moderenisasi dan Politik ini pun secara perlahan menciptakan separasi dalam kehidupan kita sehari-hari, yaitu kita dan mereka. Kita yang diajak atau yang menerima moderenisasi, dan mereka yang anti moderenisasi dan yang tidak menerima moderenisasi. Moderenisasi dan Politik ini pun berhasil menjadi hantu gaya baru bagi penguasa. Dan tetap berpotensi untuk merongrong terus-menerus legitimasi penguasa yang sah secara politik untukmasalah demokrasi.
Moderenisasi, sebagai kemjuan wajib untuk manusia mestinya menjadi ruang dan waktu untuk berefleksi, untuk melihat kembali esensi dari kebermoderenan masyarakat saat ini. Seperti apa mestinya masyarakat dalam bersikap, dalam bergaul sebagai warga dalamsuatu wilayahnya? Harapan, latihan menahan ketidak siapan ini, mengangkat konotasi kata, yang turut menjernihkan cara pandang. Sehingga, kita bisa mengolah kembali, karakter kebermoderenisasi yang diusung sebenar-benarnya. Bahwa moderenisasi adalah jalan pembuka, moderenisasi adalah perubahan, untuk dapat berjalan sesuai dengan jamannya pada konteks kebaikan dan kemudahan.