Deru kendaraan terbungkam suara seseorang. Aktivitas sekitar menjadi beku dan harus ku bisukan. Aku lupa berhadapan dengan siapa. Semua kata yang meluncur tidak asing tapi kegagalan makna berbenturan di pintu pikiran. Ada makna yang melangkah pasti, membuka gagang pintu dengan percaya diri. Beberapa mematung sejenak, mencari, menganalisis pintu mana yang benar tepat untuknya. Dan sangat di sayangkan, kebanyakan dari kata-kata itu tidak bisa berhenti, tidak juga melangkah dengan tujuan. Berjalan. Dengan rasa lelah ingin berhenti tapi tidak ada perhentian yang ditemukan. Ribuan makna itu masih lalu-lalang mencari pintu takdirnya.
Ku titipkan pinta pada Sang Pendengar, simpan manusia-manusia seperti mereka, jauhkan beberapa saat saja. Diwaktu katanya sudah menjadi makna dan tertata dan telah menjadi makna dalam kataku, muntahkan lagi mereka. Agar kebencianku atas makna yang padat hingga sulit dicerna, tidak ku caci. Dan tentu saja tentang dendam, ribuan buku yang ia sambangi melebihi ekspektasi.
(FLP Takengon Februari 2019, Pemateri; Diyus Hanafi)