Berkunjung ke kota dingin Takengon, ada suatu kesenangan tersendiri yang sulit didapatkan di daerah lain di Aceh. Kota tua itu memiliki berbagai suguhan menarik yang patut dinikmati. Selain alamnya yang indah,
Takengon terletak di Aceh tengah Indonesia, kota tersebut juga memiki berbagai tempat wisata yang nyaman. Obyek wisata tersebut antara lain adalah danau laut tawar, mungkin teman-teman sudah tahu bagaimana danau laut tawar, bahkan bagi yang sudah berkunjung ke danau itu sudah dapat melihat secara langsung bagaimana keindahan danau laut tawar yang diperkirakan sebagai bekas ledakan gunung berapi itu.
Namun, di sisi lain di sini saya hanya ingin menceritakan sedikit pengalaman pribadi, bagaimana perasaan saya ketika berada di danau. Hari itu, saya berkunjung dengan adik saya, adik ipar, serta dua orang kawan yang memandu kami di sana. Kebetulan sekali, kami menyempatkan waktu untuk mengelilingi danau, mulai dari arah perkotaan sampai kembali ke wilayah perkampungan warga. Saya tidak tahu persis apa nama daerah itu, tapi yang jelas, kami mengelilingi wilayah bundaran danau laut tawar.
Sesampai di sebuah obyek sebelah utara pegunungan, kami sempatkan waktu sebentar untuk singgah di gua putri pukes. Setelah meneliti dan melihat cerita legenda di areal kaki bukit pegunungan putri pukes, lalu kami menuju ke obyek lainnya. Saya menemukan berbagai situs menarik yang patut dicatat abad lampau yang melegenda tentang putri pukes, terutama tentang sang putri yang menjadi batu akibat tertimbun abu-abu pegunungan, makanya mesti hati gaes, kalau berada di kaki pegunungan, siapa tahu tiba-tiba angin kencang, dan bencana alam pun terjadi, bersembunyi di balik kaki pegunungan so pasti bakal tertimbun.
Di samping itu, kami menuju ke sebuah obyek paling menarik, dan tidak kusangka-sangka ternyata di sini saya dapat menemukan jiwa saya kembali. Di bawah kaki pegunungan sebuah obyek ini, saya sempatkan diri berlama-lama sampai sore hari. Sambil mengamati gelombang air pegunungan, dan menikmati semilir, jiwa saya seteduh telaga rimba. Rimbunan pepohonan seakan merengkuh saya dalam pelukan paling syahdu di kaki danau ini. Tak ayal, jika ternyata danau seluas itu menyejukkan jiwa saya yang sudah lama kelelahan dengan pekerjaan yang menumpuk, setiba di danau itu segala suguhan alam seakan memikat saya untuk menetap tinggal di sana. Teman-teman pasti kepinginkan seperti itu, nah kalau ke sana jangan lupa bawa indomie dan peralatan lain agar bisa dimasak di sana, dan bisa makan bersama.
Gaes, cukup di sini dulu ya ceritanya, karena di situ ada yang lagi mojok. Asiknya lagi, di bawah kaki danau itu banyak yang pacaran lo......