Nama Cubo pernah sangat terkenal di Aceh. Jika kebetulan Anda baru mendaftarkan diri sebagai mahasiswa baru di sebuah kampus di Banda Aceh, bertemu dengan seseorang yang memperkenalkan diri berasal dari Cubo, maka ada dua reaksi yang bakal muncul: Anda akan tersenyum lalu menjawab sinis "Oh, dari Cubo!" Seolah-olah Anda baru saja bertemu dengan seseorang dari sebuah komunitas yang berbeda.
Bahkan, kala itu muncul ungkapan bernada negatif saat menggambarkan orang Cubo. Istilah ‘lagee awak Cubo’ bukan dimaksudkan untuk hal positif. Diibaratkan seperti orang Cubo sama saja dengan memandang orang itu kampungan. Ungkapan itu bertahan untuk kurun waktu yang sangat lama. Sehingga, frasa lagee awak Cubo sama artinya dengan kolot.
Reaksi itu sangat wajar (tapi mungkin berlebihan). Sebelum konflik memuncak akhir 1998, Cubo memang sering diasosiakan sebagai daerah terpencil dan terbelakang. Cubo berada jauh dari jalan raya. Akses ke sana pun sulit, karena jalan belum semuanya teraspal. Jaringan listrik sendiri baru masuk ke Cubo, terutama ke Gampong Blang Sukon sekitar tahun 1998.
Cubo sendiri sebenarnya sebuah Mukim, sebuah tingkatan pembagian daerah administratif yang terdiri atas beberapa gampong (desa) dan dipimpin oleh seorang Imum Mukim. Dari enam desa di Mukim Cubo, yaitu Kayee Jatoe, Blang Sukon, Paru Keude, Blang Baro, Gampong Puduek dan Lhok Pu’uk, hanya Paru Keude yang mungkin tidak terpencil karena berada di tepi jalan raya. Masyarakat di Mukim ini rata-rata bermata pencaharian sebagai petani, pekebun, dan sebagian kecil sebagai PNS.
Meski dianggap terpencil, warga Cubo pernah sangat jaya di masa lalu. Dulu, Cubo terkenal daerah penghasil tanaman coklat (kakao). Saking primadonanya coklat, kata Muhammad Kaoy, mantan Imum Mukim Cubo, masyarakat pernah menyulap lahan yang mereka miliki menjadi kebun coklat. Akibatnya, banyak lahan pertanian ketika itu ikut diubah menjadi kebun coklat.
Secara topografis, Mukim Cubo, terutama desa Kayee Jatoe dan Blang Sukon, memiliki areal kebun yang cukup luas dan dikelilingi oleh hutan. Jauh sebelum tanaman coklat menjadi primadona, Cubo sebenarnya juga terkenal sebagai salah satu daerah penghasil cengkeh. Namun, kini sisa-sisa kejayaan cengkeh sulit ditemui di sana.
Seiring anjloknya harga coklat ditambah banyak penyakit yang menimpa tanaman holtikultura itu, masyarakat pun meninggalkan kebun coklat. Menurut Muhammad Kaoy, sejumlah lahan yang sebelumnya sudah disulap jadi kebun coklat dikembalikan lagi sebagai lahan sawah.
“Saat banyak tanaman coklat terserang penyakit, masyarakat kembali menggarap sawah,” kata Muhammad Kaoy, mantan Keuchik Kayee Jatoe dan mantan Imum Mukim Cubo. Namun, sisa-sisa kejayaan coklat masih bisa ditemui di Mukim Cubo. Warga masih menanam coklat di lahan dan kebun mereka.
Saat konflik Aceh memuncak tahun 1998, Cubo mendadak jadi terkenal. Daerah ini menjadi salah satu basis Gerakan Aceh Merdeka (GAM). Bahkan, Panglima GAM Teungku Abdullah Syafie menikah dengan seorang gadis Cubo. Pocut Fatimah, namanya, seorang warga Blang Sukon. Hari-hari Teungku Lah, demikian panglima karismatik itu disapa, lebih sering dihabiskan di Cubo, selain di Jiem-jiem, yang jadi markas besarnya. Tapi, setelah sering kali diincar aparat, sosok yang disapa Teungku Lah itu memilih menyingkir ke Jiem-jiem, masih dalam Kecamatan Bandar Baru.
Sejak itu sampai sekarang, tak ada lagi yang memandang rendah orang Cubo. Apalagi, kuburan sang panglima karismatik itu berada di Mukim Cubo, tepatnya di Kampung Blang Sukon.
Oh ya, selain dipandang sebagai panglima karismatik, rupanya Teungku Lah juga meninggalkan sebuah legacy untuk masyarakat Cubo, yaitu sebuah jembatan rangka baja dan SMP Negeri 4 Cubo. Jembatan dan sekolah itu hadir di Cubo berkat jasa sang panglima. Tak percaya? Coba tanya saja pada masyarakat Cubo. []