SEJARAH DULU

Ketika para ulama, dai dan wali (Sembilan Wali/ Wali Songo) berdakwah di berbagai sudut wilayah Nusantara, selalu menggunakan pendekatan yang persuasif, damai namun tetap substantif. Para ulama cerdas bermetode dakwah dengan tidak langsung frontal menyampaikan ajaran dengan menghapus nilai-nilai kebaikan yang sudah ada, melainkan dengan menyerap budaya dan kearifan masyarakat lokal. Dengan catatan, tidak bertentangan dengan nilai-nilai dan ajaran Islam itu sendiri.

Pelajaran paling penting dari dakwah dari para Dai, Ustadz, Kyai, Habaib maupun Wali Songo zaman dahulu bukan sebagai orang paling tahu atau sok tahu. Tapi mereka hadir dengan semangat menyerap nilai-nilai yang baik itu, lalu menitipkan substansi keIslaman sehingga tanah nusantara ini menerima Islam dengan damai.

Dus, literatur sejarah pun mencatat bahwa masuknya Islam hingga ke pojok-pojok wilayah Indonesia yang luas, terjadi dalam suasana kedamaian. Tidak meninggalkan jejak sejarah perang atau konflik yang tebal, melainkan mewariskan sistem percampuran maupun pembauran budaya dan nilai-nilai yang kaya kebaikan.

Firman Allah SWT dalam QS. Al Maidah ayat 3 berbunyi, "Pada hari ini telah Aku sempurnakan agamamu untukmu dan telah Aku cukupkan untukmu nikmat-Ku dan telah Aku ridhai Islam sebagai agamamu…"

Kita bisa memaknai ayat tersebut bahwa dari semua atribut Al-Qur'an yang Allah SWT sebutkan, yang terpenting dan paling utama adalah bahwa Al-Qur'an sebagai petunjuk hidup. Al-Qur'an sebagai petunjuk ini mengarahkan kita bagaimana cara membangun perekonomian yang baik dan adil merata, bersosialisasi dan berbudaya yang baik, serta menciptakan perikehidupan politik yang berkeadaban mulia. Wallahu a'lam bishowab.
Q

H2
H3
H4
3 columns
2 columns
1 column
1 Comment