This content was deleted by the author. You can see it from Blockchain History logs.

BERUNTUNG! ACEH TIDAK PUNYA BIOSKOP

Kemarin ada Diskusi Santai di Sekretariat Aceh Documentary @acehdoc, yang membahas tentang Publishing & Manajemen Pemutaran Film bersama MELATI NOER FAJRI (Founder Anak Singa Fim). Kebetulan si Mbak Melati lagi Roadshow keliling Indonesia buat Mutar filmnya Yoseph Anggi Noen yang judulnya “Istirahatlah Kata-Kata”. Setelah mutar di Banda Aceh dan Takengon, sebelum beliau balik ke Jawa. Langsung saja diculik sama teman-teman @acehdoc, untuk kemudian diinterogasi pengetahuaan beliau tentang Distribusi Film, khususnya film independent. Jadi di postingan ini saya akan berbagi sedikit, tentang apa yang dibahas ketika kami diskusi kemarin.

E1C2156D-AC98-49B3-854E-18873857F293.jpeg
Turut hadir juga steemian @irzaulya, @jackmun, @andrikyokyo, @saidrasul, @tenhero.

Melati mengawali diskusi dengan menceritakan tentang komunitasnya di Malang yang bernama GAMBAROBA. Bersama Gambaroba, dia sering memutarkan film-film yang dirangkum dalam program dan tema tertentu. Namun menariknya, pemutarannya tidak khusus dihadiri oleh kalangan filmmaker, bahkan seperti “haram” buat komunitas film untuk hadir menonton dan berdiskusi. Hal ini dikarenakan, agar film benar-benar bisa dinikmati dan dialami oleh penonton seutuhnya. Sehingga ketika sesi diskusi pun benar-benar bisa membucarakan hal-hal yang tidak berbau tekhnis. Namun demikian bukan tidak boleh atau benar-benar haram sebagaiaman fatwa haram yang dikeluarkan MPU buat pembuat film untuk hadir di acara Gambaroba. Kalaupun pembuat filmnya hadir, maka dia juga akan dianggap sebagai penonton seutuhnya. Sehingga ketika sesi diskusi, pembuat film bisa ikut mendengarkan saran-saran serta masukkan dari penonton.

Arah diskusi kemudian berlanjut ke pembahasan terkait Programmer Film. Jujur bagi saya sendiri hal ini masih cukup awam dan membingungkan. Walaupun saya dipercaya kawan-kawan di Aceh Film Festival (AFF) sebagai Programmer, namun rasanya masih belum pantas menerima tanggung jawab tersebut. Bagaikan gayung bersambut hadirnya Melati di diskusi tersebut, menjadi sasaran empuk bagi saya untuk jadi sasaran bertanya. Dari sekian hal yang kami bahas terkait programmer, ada satu hal yang bagi saya cukup mencerahkan ketika Melati menjelaskan bahwa seorang Programmer Film dalam menyusun program pemutaran film, juga tidak beda halnya ketika Sutradara menyusun plot dalam filmnya. Bagaimana dalam membuat film, seorang sutradara dituntut untuk benar-benar bisa mengolah rasa serta pesan dari filmnya, yang dirangkai melalui tiap plot dalam filmnya. Skill ini menjadi penting juga bagi seorang programmer, agar program pemutarannya tidak hanya menjadi sekedar acara nonton film yang menghibur saja, tetapi juga diharapkan bisa ikut mengubah perspektif penonton tentang pesan dari film dan tema acara pemutarannya. Sehingga penonton merasa butuh dengan acaranya dan tercerahkan lah paling tidak dengan film-film yang diputarkan.

2DFF6252-A1B7-4ADC-AC10-14F89236F730.jpeg

Ada cerita yang menarik dari Melati ketika dia menceritakan kondisi Pemutaran Alternatif bersama teman-temannya di Parade Film Malang dan Festival Film Malang. Tentunya Malang sebuah kota yang tidak perlu merasa rindu dengan ruang-ruang tontonan. Hadirnya bioskop 21, XXI, Moviemax yang menjamur di hampir setiap Mall di Malang memberikan kesempatan besar bagi Industri Kapitalis, dan pengalaman menonton yang cukup bagi Arek Malang. Kondisi yang jauh berbeda pastinya bagi Awak Aceh. Terus apa yang menarik dari cerita Melati bersama komunitasnya?. Ketika awal Festival Film Malang diadakan, mereka menggunakan alun-alun kota Malang sebagai lokasi acara. Secara lokasi, alun-alun Kota Malang diapit oleh pusat perbelanjaan yang juga diisi oleh Bioskop 21 dan Moviemax. Menggunakan konsep layar tancap, pasti rasanya sangat beda dengan konsep Bioskop yang berada persis di samping alun-alun. Ketika pemutaran, ada seorang Ibu bersama anaknya yang datang ke acara sambil membawa ceret dan tikar, layaknya acara camping keluarga di pantai. Ketika ditanya tentang acara, si Ibu mengatakan sangat senang bisa nonton film bareng keluarga. Bagi si Ibu, acara nonton film di alun-alun dengan layar tancap, lebih mudah untuk diakses baginya, dibandingkan harus nonton film di bioskop yang harus bayar tiket senilai 25-35 ribu rupiah. “Mending uangnya saya simpan buat jajan anak-anak. Kalau dituruti ikut nonton bioskop, bisa-bisa gak ada jajan ntar anak-anak saya”.

7976BAF6-94E2-42F4-A05E-FD6D722D4F40.jpeg
source

Beruntung Aceh Tidak Punya Bioskop

Dari cerita Melati tentang Ibu dan anak-anaknya yang ikut nonton layar tancap. Bila kita sandingkan dengan kondisi Aceh yang hari ini sudah tidak punya lagi Bioskop. Satu sisi menjadi Keuntungan bagi masyarakat yang kadang untuk memberi jajan anak-anaknya saja masih harus hemat-hemat. Sisi lainnya ini juga jadi keuntungan buat para penggiat film lokal untuk tetap bisa mengikat para penontonnya, baik dengan cara mendistribusikan filmnya dalam kaset CD/DVD yang dijual, atau bahkan membuat ruang-ruang tonton alternatif yang mampu diakses semua kalangan. Contohnya saja seperti yang pernah dilakukan kawan-kawan HIMAKASI beberapa tahun silam, dan juga yang masih dilakukan saat ini oleh kawan-kawan Aceh Documentary dan Aceh Film Festival, dengan acara “Gampong Film” layar tancap di lapangan gampong dan halaman-halaman masjid di gampong.

4E1D78FB-2424-4F8A-AA9D-CB9FEEBFC272.jpeg
source

Sudah saatnya para penggiat film terutama komunitas film Aceh mengambil keuntungan ini, sebelum industri raksasa nantinya hadir bersama film-film Hollywoodnya.!

Saleum Sinema!
Teurima kasih

Logo
Center